Beritasumut.com-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memandang peran perempuan sangat penting dalam pencegahan korupsi. Melalui peran sentralnya sebagai ibu, istri dan anggota masyarakat, kaum perempuan diharapkan bisa menyemai pesan antikorupsi. Karena itu, KPK melalui Gerakan Nasional "Saya Perempuan Anti Korupsi" (GN SPAK) berupaya mengoptimalkan peran perempuan agar tercipta tatanan masyarakat yang bebas dari korupsi.Sebagai tindak lanjut, KPK kembali menggelar pelatihan "Saya, Perempuan Anti Korupsi" (SPAK) bagi para perempuan pada Kamis-Sabtu (7-9/4) di Hotel Mekkah Jalan T Daud Beureu'eh, Banda Aceh. Kota ini merupakan kota pertama di Sumatera yang disinggahi dan kota kedua sebagai tempat penyelenggaraan pada 2016. Sebelumnya, kegiatan ini telah digelar di Kota Sorong, Papua Barat, pada akhir Februari lalu. Kegiatan yang diikuti para perempuan dari berbagai latar belakang ini, dihadiri oleh Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan. Dalam pelatihan tersebut, para agen SPAK akan dibekali pengetahuan oleh pakar hukum pidana Gandjar Laksmana Bonaprapta, seputar delik-delik korupsi dan beragam modus korupsi serta konsekuensi hukumnya. Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan berharap, melalui seminar ini, para peserta yang nantinya menjadi fasilitator ini bisa menghindari korupsi, mengajarkan nilai antikorupsi serta mendorong perubahan dengan mengoptimalkan perannya sebagai istri, ibu dan anggota masyarakat di lingkungannya. "Tak hanya peran sebagai istri dan ibu, agar mampu menginspirasi keluarganya, mereka juga diharapkan bisa memberi pengaruh positif bagi masyarakat sekitarnya," kata Basaria, seperti dikutip dari kpk.go.id, Jumat (08/04/2016).Basaria melanjutkan, harapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa ada sebagian kasus korupsi yang ditangani KPK, menunjukkan adanya peran perempuan di dalamnya. Bahkan, beberapa di antaranya melakukan perbuatan korupsi bersama-sama. "Bahkan ada yang melibatkan istri atau anak sebagai sarana dalam tindak pidana pencucian uang," katanya.Menurut Basaria, itu sebabnya gerakan SPAK menyasar kaum perempuan yang dipandang memiliki peran strategis di rumah dan masyarakat. Kesadaran itu, katanya, tak hanya melalui kegiatan sosialisasi, melainkan juga bisa dilakukan dengan hal sederhana dan menyenangkan dengan tetap mengedepankan pesan moral yang kuat. "Permainan digunakan sebagai alat bantu. Dengan begitu, nilai antikorupsi akan lebih mudah dicerna dan kami yakini akan memberi manfaat bagi siapa saja yang memainkannya," lanjutnya.Gerakan SPAK menggunakan alat bantu permainan lainnya, seperti Arisan Antikorupsi, Lima Jodoh (Majo), Putar-putar Lawan Korupsi (PutputLK) dan SEMAI (Sembilan Nilai) permainan yang dirancang untuk anak-anak. Program SPAK telah diluncurkan pada 22 April 2014 dan dicanangkan sebagai gerakan nasional pada 21 April 2015. Kini, program ini telah melatih perempuan Indonesia di 16 provinsi dan telah melahirkan 550 agen SPAK dari berbagai latar belakang, seperti ibu rumah tangga, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dosen, guru, tokoh agama, pengusaha, mahasiswa, tokoh masyarakat dan aktivis.(BS01)