Deklarasi Hari Ulos di Medan Berjalan Sukses

Redaksi - Sabtu, 17 Oktober 2015 20:47 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir102015/beritasumut_Deklarasi-Hari-Ulos-di-Medan-Berjalan-Sukses.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Istimewa
Ketua panitia Deklarasi Hari Ulos Enni Martalena Pasaribu saat memberikan cinderamata kepada undangan.

Beritasumut.com - Dua kata kunci yang bisa dilaksanakan dalam memajukan kebudayaan yakni pelestarian dan revitalisasi kebudayaan itu sendiri. Hal ini yang dilakukan Panitia Deklarasi Hari Ulos di Sumatera Utara (Sumut), yang menggelar acara dengan sederhana dilatarbelakangi telah diterbitkannya sertifikat oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang menyatakan ulos merupakan Warisan Kebudayaan Takbenda Tanggal 17 Oktober 2014 dengan No Reg 2010000708 yang diterima oleh Wakil Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi di Jakarta.

Demikian dipaparkan Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen Manguji Nababan dalam orasi kebudayaannya, di Jalan Sei Galang, Medan, Sabtu (17/10/2015). Dengan langkah revitalisasi bertujuan untuk menghidupkan kembali budaya tersebut yang bisa digunakan sebagai modal kultural guna pewarisan kebudayaan kepada generasi berikutnya.

"Hal penting yang harus kita pahami bersama, manaili tu pudi, marpangantusion di na masa si saonari jala marpanatap tu jolo (mengingat masa lalu, memahami masa kini untuk mempersiapkan masa depan)," ujar Manguji.

Ulos, lanjutnya, bagi masyarakat Batak pada awalnya dimaknasi sebagai perlambang setiap pemberian hula-hula kepada pihak boru. Ulos (herbang, ragi) adalah sebagai kain tenun yang diwariskan leluhur kepada kita. Ulos Batak adalah jati diri dan identitas orang Batak yang tidak dimaknai sekadar kain. 

"Lebih jauh, ulos Batak adalah hasil karya budaya leluhur yang bernilai estetika dan sarat makna filosofi dan bernilai cultural yang tinggi. Ulos selalu setia mengiringi perjalanan kultural Batak baik pada upacara pernikahan, kelahiran, duka maupun suka," ujarnya. 

Dan ditegaskannya bahwa ulos tenunan Batak asli hanya mengenal tiga warna, hitam, putih dan merah. Dan bagi orang Batak memberi dan menerima ulos dimaknai sebagai modal sosial dalam mengikat kasih dalam unsur kekerabatan maupun hubungan persaudaraan.

Jadi menurut Manguji, upaya pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan dalam menetapkan ulos menjadi warisan budaya takbenda nasional wajar disambut dengan gembira.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tapanuli Utara Gibson Siregar mengatakan pihaknya sangat menyambut baik deklarasi Hari Ulos tersebut. 

"Ulos tidak bisa terlepas dari kehidupan kita sehari-hari sebagai warga yang berbudaya. Di Taput sendiri, saat peringatan hari jadinya menampilkan fashion show dengan busana berbahan ulos, dan akan terus kita lakukan," ujarnya sembari mengatakan merasa bangga jika ulos mendunia. 

Dukungan juga disampaikan Plt Gubernur Sumut yang diwakili oleh Kepala Bidang Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Risma Ria Hutabarat.

Sebelumnya, Ketua Pantia Enni Martalena Pasaribu mengatakan pelaksanaan acara tersebut bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus merespon penerbitan sertifikat menjadikan ulos sebagai Warisan Budaya Takbenda. 

"Ini menjadi langkah awal peringatan hari ulos, dan selanjutnya akan kita adakan seminar tentang ulos yang berbicara tentang 'ulos nantuari, sadarion, haduan'," ujarnya.

Ia mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan para penggiat dan pecinta ulos. Terutama Galery Ulos Sianipar yang dipimpin Robert Sianipar yang mendukung fashion show busana berbahan ulos meski persiapan cukup singkat. 

"Juga kami ucapkan terima kasih kepada Pengurus Siraja Oloan se-Indonesia yang telah memprakarsai acara ini," ujarnya.

Selain fashion show, undangan yang hadir juga diajak untuk makan itak gurgur, salah satu makanan khas Batak. Serta pemberian cinderamata kepada Manguji Nababan sebagai pemerhati kebudayaan, Robert Sianipar, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Taput Gibson Siregar, dan terkhusus kepada Ketua Siraja Oloan se-Indonesia RAY Sinambela diserahkan oleh Plt Gubernur Sumut diwakili Kepala Bidang Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Risma Ria Hutabarat, serta kepada perwakilan generasi muda. 

Pada kesempatan itu juga digelar pameran ulos dan produk-produk yang bertemakan motif ulos. Turut hadir Efendy Naibaho mantan Anggota DPRD Sumut, Torang Mt Sitorus, dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Sumut. (BS-001)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

TPS dan PKL Penyebab Kota Medan Gagal Meraih Adipura

Peristiwa

Diteror Bunuh OTK, Rajudin Minta Kecurangan Dunia Pendidikan di Medan Direspon Semua Pihak

Peristiwa

Poldasu Belum Terima Laporan Terkait Teror Kepada Anggota DPRD Medan

Peristiwa

Gagal Rampok Tas Perempuan, Andre Nyaris Tewas Dihakimi Massa

Peristiwa

Konflik di Hermes, Pemko Medan Perlu diajak Bicara

Peristiwa

PMI Sumut Miliki Markas Komprehensif dan UTD Modern