BNPB Kerahkan 25 Pesawat dan Helikopter Untuk Operasi Udara

Redaksi - Senin, 28 September 2015 23:39 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir092015/beritasumut_BNPB-Kerahkan-25-Pesawat-dan-Helikopter-Untuk-Operasi-Udara.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Twitter
Helikopter dan pesawat yang digunakan BNPB.

Beritasumut.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menambah helikopter water bombing untuk padamkan api dan asap akibat karhutla di Sumatera dan Kalimantan. Total ada 21 pesawat dan helicopter water bombing untuk operasi udara, yaitu 19 heli water bombing, 2 pesawat air tractor water bombing, dan 4 pesawat hujan buatan. 

Demikian dijelaskan Kapusdatin Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Senin (28/9/2015).

Dijelaskan, dari 19 heli tersebar di Riau 3 unit, Jambi 4, Sumsel 5, Kalbar 2, Kalteng 3, dan Kalsel 2. Dua pesawat Air Tractor dari Kementerian LHK ditempatkan di Sumsel, sedangkan 4 pesawat hujan buatan digelar di Riau, Sumsel, Kalbar dan Kalteng. 

“Operasi udara ini adalah yang terbesar dibandingkan tahun 2014 dalam mengatasi karhutla. Tahun 2014, operasi udara didukung 12 heli dan 3 pesawat hujan buatan,” beber Sutopo.

Untuk operasi darat, saat ini dikerahkan 20.837 personil tim gabungan dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan lainnya. Sebanyak 3.773 personil TNI dari pusat diperbantukan di Riau 1.444 personil, Sumsel 1.294 personel, Kalteng 500 personel, dan Kalsel 535 personel. Sedangkan Polri dari satuan Brimob dan penyidik dari pusat yang dikerahkan 770 personel.

Cuaca kering, terbatasnya air dan sarana prasarana serta luasnya wilayah yang terbakar menjadi kendala dalam pemadaman. Api yang sudah padam terbakar kembali karena gambut terbakar di bawah permukaan. Selain itu, pembakaran juga masih terjadi di lahan pertanian, perkebunan dan semak belukar. 

Kondisi demikian menyebabkan jarak pandang pendek. Pada Senin (28/9/2015) pukul 15.00 WIB, jarak pandang di Palangkaraya 400 m, Muara Teweh 100 m, Pontianak 600 m, Jambi 400 m, Pekanbaru 1.000 m, Rengat 300 m, Kerinci 400 m, dan Palembang 2 km. Kualitas udara seperti ISPU di Pontianak 705 (Berbahaya), Palangkaraya (Berbahaya), Palembang 261 (Sangat Tidak Sehat), dan Pekanbaru 208 (Tidak Sehat).

Ancaman karhutla berpotensi hingga akhir November 2015 jika pencegahan tidak dilakukan dengan keras dan tegas, pungkas Sutopo. (BS-001)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Perlu Waspada, Sumut Merupakan Provinsi Kelima Terbanyak Bencana

Peristiwa

Siaga Hadapi Karhutla, Musim Mas Kolaborasi dengan Para Pemangku Kepentingan

Peristiwa

Dukung Percepatan Penanganan Bencana, Pemerintah Indonesia Dorong Bantuan Kemanusiaan Tahap Dua ke Turki

Peristiwa

Dorong Transformasi BNPB, Presiden Jokowi Tekankan Lima Hal

Peristiwa

BNPB dan Utusan Khusus PBB Tinjau Sekolah Aman Bencana SDN 13 Klender Jakarta

Peristiwa

Penanggulangan Erupsi Semeru, Dansatgas Fokus Pembangunan Insfrastruktur dan Pemukiman