Muktamar ke-33 NU

Ketum PBNU Tegaskan 4 Spirit Islam Nusantara

Redaksi - Minggu, 02 Agustus 2015 19:53 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir082015/beritasumut_Ketum-PBNU-Tegaskan-4-Spirit-Islam-Nusantara.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Setkab
Presiden Jokowi membuka Muktamar ke-33 NU di Jombang.

Beritasumut.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kembali menegaskan makna Islam Nusantara yang kerap disalahpahami sebagian masyarakat.

"Islam Nusantara sama sekali bukan madzhab baru, bukan tsiqah baru, bukan aliran baru," katanya di hadapan Presiden RI Joko Widodo, pejabat tinggi negara, duta besar negara sahabat, ulama Timur Tengah, dan puluhan ribu hadirin yang terdiri dari pengurus NU dan masyarakat secara umum, dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8/2015), sebagaimana dilansir situs resmi NU.

Menurut Kang Said, Islam Nusantara merupakan istilah yang merujuk pada khashaish (keistimewaan) keberislaman masyarakat pribumi, yakni Islam yang mampu melebur secara harmonis dengan budaya Nusantara, serta berpegang pada empat spirit.

Keempat spirit tersebut, yakni, ruhud diniyah (spriti keagamaan), ruhul wathaniyah (spirit kebangsaan), ruhut ta'addudiyah (spirit kebhinnekaan), dan ruhul insaniyah (spirit kemanusiaan). Semangat inilah yang dijunjung tinggi NU sepanjang berdiri.

Kang Said juga menyampaikan, umat Islam Indonesia mesti memiliki semangat keagamaan yang tinggi, tanpa keinginan yang berlebihan untuk memformalkannya dalam konstitusi. NU, hingga kini menegaskan komitmen ketaatannya terhadap konstitusi, siapapun presidennya. Hal tersebut menjadi bagian dari nasionalisme yang menyala di dada warga NU.

Doktor Universitas Ummul Qura Makkah ini juga mengingatkan bahwa umat Islam harus menyadari tentang takdir keberagaman di masyarakat. Apalagi, Indonesia adalah negara dengan tingkat keragaman suku, adat istiadat, agama, dan budaya yang tinggi.

"Di atas sajadah Nusantara inilah kita belajar firman Allah. Walau syaa'llahu laja'alakum ummatan wahidah (Jikalau Allah menghendaki, Allah pasti menjadikan kamu sekalian umat yang satu)," tuturnya mengutip ayat Quran.

Islam Nusantara, bagi Kang Said, juga merupakan karakter keislaman yang sangat peduli dan menghormati manusia dan kemanusiaan. "Inilah Islam Ahlussunah wal Jamaah, yang kita warisi dari para auliya terutama Wali Songo," ujarnya.

Muktamar Ke-33 NU akan berlangsung hingga 5 Agustus 2015 yang digelar di empat pesantren terkemuka di Jombang. Tema yang diusung pada perhelatan akbar NU kali ini adalah "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia". (BS-001)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Ekspedisi Islam Nusantara, PBNU Akan Kunjungi Masjid Bersejarah di Sumut

Peristiwa

Ekspedisi Islam Nusantara PBNU Didukung Penuh Pemprov Sumut

Peristiwa

KH Said Aqil Siroj Minta Hasil Muktamar NU Dihormati

Peristiwa

KH Said Aqil Siroj Kembali Terpilih Jadi Ketum PBNU

Peristiwa

Pakai Sarung, Jokowi Buka Muktamar NU di Jombang

Peristiwa

Jokowi Terinspirasi Ulama NU Yang Mampu Mewujudkan Islam Nusantara, Bukan Islam di Nusantara