Beritasumut.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj mengatakan, pendiri NU KH Hasyim Asy'ari mempunyai visi misi membangun ukhuwah Islamiah yang sinergis dengan ukhuwah wathaniah (nasionalisme).
"Artinya, Islam harus diperkuat dengan semangat nasionalisme. Dan, nasionalisme harus jadi value (nilai) dan sprit bagi Islam," kata Kiai Said saat menyampaikan pidato pada pembukaan Pra Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera di Pondok Pesantren Al Kaustar Al Akbar, Jalan Pelajar Timur Ujung, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Ahad (17/5/2015).
Hadir pada pembukaan Pra Muktamar NU, Rais Am PBNU KH Musthafa Bisri, Ketua Steering Committee (SC) Muktamar ke-33 NU KH Selamet Effendy Yusuf, Ketua OC Muktamar Imam Aziz, Sekjen PBNU Marsudi Syuhud, pimpinan Pesantren Al Kaustar Al Akbar Syekh Ali Akbar Marbun, Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, Wagub Sumut T Erry Nuradi, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Edy Rahmayadi, Kapolda Sumut Irjen Pol Eko Hadi Sutedjo, Pangkosekhanudnas III Marsma Arif Mustofa, dan Anggota Fraksi PKB DPR RI Marwan Dasopang.
Juga hadir Walikota Medan Dzulmi Eldin, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan, Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk, Walikota Tanjungbalai Thamrin Munthe, pimpinan ormas, ulama dan tokoh masyarakat Sumut.
Kiai Said menegaskan, betapa pentingnya memadukan Islam dan nasionalisme. Sebab, Islam saja belum bisa menyatukan umat. Contohnya, Afganistan dan Somalia yang 100 persen penduduknya muslim, terus perang dan sudah ratusan ribu nyawa melayang. Itu terjadi karena mereka tidak punya semangat kebangsaan yang mampu menyelematkan keutuhan negaranya.
"Karena itu, KH Hasyim Asy'ari menggabungkan Islam dan nasionalisme. Islam diperkuat dengan nasionalsme, dan sebaliknya nasionalisme diberi sprit oleh Islam," tegas Kiai Said di depan 2.500 nahdliyin.
Dia juga mengatakan, siapa yang tidak punya tanah air, tidak akan punya sejarah. Sebab, sejarah ditulis di atas tanah air. Dan siapa yang tidak punya sejarah akan terlupakan. Itulah sebabnya, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah karena ingin membangun tanah air.
"Amankan dulu tanah air baru bicara Islam. Tidak mungkin dakwah Islam dijalankan kalau tanah air tidak aman," tegasnya seraya menambahkan keheranannya ada ormas yang terus berbicara Islam, tapi tak pernah menyebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka seolah-olah membangun negeri di atas angin.
Apa yang dilakukan ISIS, tutur Kiai Said, sangat bertentangan dengan Islam. Mereka membunuh orang Syiah dan Sunni seenaknya. Mereka membunuh wartawan dan anak-anak di Syuriah.
"Tidak ada yang bisa diharapkan dari gerakan ISIS. Justru sebaliknya, ISIS lebih efektif daripada nonmuslim dalam menghancurkan kredibilitas dan kesucian agama Islam," kata alumni UIN Yogyakarta ini.
Dalam kesempatan itu, Kiai Said menegaskan, NU anti kekerasan, anti eksrimis, anti radikalisme, dan anti terorisme. Karenanya, dia menyayangkan ada pesantren bernama Assunnah di Cirebon, bukan hafal Al Quran tapi hapal merakit bom.
Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dalam sambutannya menyatakan, menyambut gembira atas penunjukan Sumut sebagai tuan rumah Pra Muktamar Zona Sumatera. Sebab, dengan berkumpulnya para ulama akan menjadikan barokah bagi Sumut.
Gubernur juga berharap agar Pra Muktamar bertema "Ekonomi dalam Konsep Perundang-undangan" ini menelurkan kontribusi NU dalam membangun bangsa dan negara.
Sebelumnya, Ketua PWNU Sumut H Afifuddin Lubis dalam sambutannya mengatakan, Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pra Muktamar karena PBNU tahu bahwa Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Sumut, Walikota Medan Dzulmi Eldin, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan dan para kepala daerah lainnya mendukung sepenuhnya kegiatan ini.
Sedangkan Ketua Panitia Adlin Damanik melaporkan, Pra Muktamar Zona Sumatera berlangsung dari 16-18 Mei 20015, diikuti 230 peserta yang berasal dari pengurus PWNU dan PCNU Sumut, Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Riau, dan utusan PBNU.
"Pra Muktamar ini dalam rangka menghimpun masukan dan pemikiran untuk dibawa pada Muktamar ke-33 NU yang akan berlangsung di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus 2015," kata Adlin. (BS-031)