Beritasumut.com - Penulis novel Toba Dreams serta Eksekutif Produser dan Co-Sutradara film Toba Dreams, Letjen TNI (Purn) TB Silalahi berharap film ini ditonton sebanyak mungkin generasi muda.
Hal itu disampaikan TB Silalahi dalam konferensi pers di Studio 1 Hermes XXI Medan, Sabtu (18/4/2015).
Bahkan, ia tidak menginginkan untung secara materi dari pembuatan film yang menghabiskan biaya Rp12 miliar ini. Ia merasa senang ketika pesan dan makna di film tersebut bisa sampai ke banyak orang terutama generasi muda.
Sebab, masalah yang muncul di tengah kalangan pemuda saat ini semakin kompleks sebagaimana digambarkan dalam film ini. Diantarnya bahaya penyalahgunaan narkoba, korupsi, belum serasinya hubungan bersaudara, perbedaan agama/suku.
Termasuk disinggungnya juga mengenai pariwisata Danau Toba yang kini memprihatinkan.
"Kita hanya teriak mau geopark Unesco, agar lingkungan diperbaiki, hanya berkata-kata. Tetapi di film ini bisa memberikan kontribusi untuk itu," ujarnya.
TB Silalahi menegaskan, bahwa cerita dalam film ini lebih mengangkat realita kehidupan bangsa ini, khususnya Batak di kawasan Danau Toba.
"Ini bukan biografi saya, kebetulan saja ini ada Sersan Tebe. Film ini merupakan kebanggaan bagi Sumut. Karena jarang film Indonesia seperti ini," ujarnya.
Ada sejumlah film Indonesia yang mengangkat tema lokal, namun tidak diketahui banyak orang karena kurang promosi. Film itu sangat perlu promosi. Dan TB Silalahi menegaskan, dirinya menggagas film ini atas dorongan kerinduan untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa ini.
"Saya sudah pernah jadi menteri, bahkan menjadi bagian di istana negara selama 10 tahun. Saya ingin berkontribusi bagi bangsa ini," ujarnya.
Di dalam film ini ada kisah romantis antara hubungan asmara Ronggur dan Andini, namun hubungan mereka tidak mulus dikarenakan perbedaan agama, suku dan budaya. Namun, di tengah perjalanannya ada keindahan dan keharmonisan dari perbedaan itu untuk kekuatan dalam kerukunan berbangsa dan bernegara.
"Maka dengan menonton film ini, Anda akan mengerti. Kalau semua saya ceritakan, anda tidak perlu menonton," ujarnya sembari menyampaikan pembuatan film ini disponsori olej PT Artha Graha, AG Peduli, PT Sinarmas, PT PLN, dan IndiHome (Telkom).
Dalam film ini juga digambarkan begitu pentingnya media informasi melalui media massa ke kawasan Danau Toba. Dimana digambarkan Sersan Tebe mengetahui keberadaan anaknya Ronggur yang bergabung dengan gembong mafia di Jakarta dan menjadi buron setelah membaca koran terbitan Sumatera Utara dengan judul "Gembong Narkoba Menghabisi Kelompoknya Sendiri".
Hal itu tergambar di salah satu adegan yang menegangkan antara perasaan Sersan Tebe yang hancur lebur dimana anak yang dikasihinya harus melakukan hal-hal di luar keinginannya.
Film ini didukung oleh artis papan atas diantaranya Mathias Muchus, Jajang C Noor, Vino Bastian, Marsha Timothy, dan disutradarai Benny Setiawan. (BS-001)