Beritasumut.com - Pentas Kreatifitas Seni dan Budaya Rakyat ke-2 Tahun 2015 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Medan, berlangsung meriah, Sabtu (11/4/2015) malam.
Meski diwarnai hujan deras, acara yang berlangsung di Open Stage Amaliun Foodcourt, Jalan Amaliun, Medan itu, tetap ramai pengunjung. Ini membuktikan acara ini benar-benar menarik perhatian masyarakat Medan.
Pasalnya, acara yang digelar sekali sebulan ini menampilkan keragaman etnik di Kota Medan.
"Ini sangat positif. Saya pikir gak ada tempat lain yang menampilkan acara seperti ini. Aneka tarian etnik ini selama ini hanya ada di acara besar, yang entah kapan-kapan digelarnya," ujar Eddi Isma, seorang pengusaha kopi yang tinggal di Jalan Gagak Hitam.
Menurutnya, Disbudpar hanya perlu mengemas sedikit lagi, agar layak jual dan lebih wah.
"Soal pemilihan lokasinya udah oke. Ini pusat kota, namun tata panggung menurut saya masih kurang. Tapi pada intinya ini harus didukung agar lebih baik lagi. Satu lagi, durasi penampilan juga harus ditambah," ujar Eddi yang kebetulan bertemu koleganya di Amaliun Foodcourt.
Acara ini telah menjadi agenda tetap Disbudpar Medan. Pentas kreasi ini menampilkan sejumlah sanggar seni binaan Disbudpar, dan tadi malam merupakan giliran Sanggar Tari Ayu Dance. Diawaki oleh siswi SD hingga SMA, mereka tampil apik dengan tarian multi etnik yang mereka bawakan.
Diawali tari Persembahan, Sanggar Ayu Dance langsung mencuri perhatian pengunjung Amaliun Foodcourt. Tari yang berasal dari etnis Melayu ini merupakan tari penghormatan kepada tamu atau orang yang dimuliakan.
Kemudian dilanjutkan dengan tari Piring asal ranah Minang yang dibawakan oleh kelompok penari cilik yang semuanya siswi sekolah dasar (SD).
Usai tarian asal Sumatera Barat (Sumbar) itu, dilanjutkan dengan tari Debas Simanguda asal etnis Dairi. Tarian ini jarang terlihat, karena memang jarang ditampilkan di Medan. Tarian ini menceritakan filosofi panen kopi sebagai salah satu komoditas pertanian andalan di salah satu kabupaten di Sumut itu.
Lalu ada tari Gempita asal Melayu Riau. Tarian yang menunjukkan kegembiraan muda-mudi ini dikreasikan dengan tarian India, sehingga menghasilkan kolaborasi gerakan yang dinamis.
Tarian terakhir yang ditampilkan Sanggar Ayu Dance adalah tari Cika Pongpong asal Dairi yang menceritakan kegembiraan petani karena hasil panen padi yang melimpah.
"Benar-benar gak nyangka, walau pun hujan tapi pengunjung tetap banyak dan antusias. Kami puas karena ternyata kegiatan yang dilakukan untuk membangkitkan seni dan budaya Kota Medan ini, diminati masyarakat," ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Medan Fahmi L Harahap. (BS-001)