40,9 Juta Penduduk Indonesia Terpapar Ancaman Longsor

Redaksi - Senin, 30 Maret 2015 21:04 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir052015/beritasumut_40-9-Juta-Penduduk-Indonesia-Terpapar-Ancaman-Longsor.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Dokumentasi
Sutopo Purwo Nugroho.
Beritasumut.com - 12 korban tewas akibat longsor di Kampung Cimerak, Desa Tegal Panjang, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Sabtu (28/3/2105) telah dievakuasi. Di Indonesia terdapat 40,9 juta jiwa (17,2% dari penduduk nasional) yang terpapar langsung oleh bahaya longsor sedang-tinggi. Dari total jumlah tersebut terdapat 4,28 juta jiwa balita, 323 ribu jiwa disabilitas, dan 3,2 juta jiwa lansia. Demikian disampaikan Kapusdatin Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Senin (30/3/2015).Dijelaskan, semua terpapar dari longsor pada saat musim penghujan. Sebagian besar mereka tidak memiliki kemampuan menghindar dan memproteksi dirinya dari bahaya longsor. Mitigasi bencana, baik struktural maupun non struktural masih sangat minim sehingga setiap musim penghujan longsor mengancam jiwa dan harta milik masyarakat. Bahkan pada Tahun 2014, longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban yaitu 408 jiwa tewas, 79.341 jiwa mengungsi, dan 5.814 rumah rusak. Masih kata Sutopo, daerah rawan longsor sesungguhnya sudah dipetakan. Jabar, Jateng, dan Jatim adalah daerah yang paling banyak terjadi longsor. Selama 2005-2014 daerah yang paling banyak kejadian longsor adalah Kabupaten Wonogiri, Bogor, Wonosobo, Bandung, Garut, Banyumas, Semarang, Sukabumi, Cilacap, Cianjur, Temanggung, Ponorogo, Kebumen dan Purbalingga. Badan Geologi telah mendistribusikan peta tersebut ke seluruh Pemda. Bahkan BNPB juga telah mengembangkan peta risiko bencana longsor yang memuat peta bahaya, kerentanan dan kapasitas. Namun demikian peta tersebut sebagian besar belum menjadi dasar dalam penyusunan dan implementasi rencana tata ruang wilayah. Masih kata Sutopo, longsor dapat diantisipasi sebelumnya. Tidak mungkin semua wilayah di Indonesia harus dipasang sistem peringatan dini longsor. Sebab memerlukan ratusan ribu unit dan biaya yang sangat besar. Kuncinya adalah rencana tata ruang wilayah perlu ditegakkan. Sosialisasi dan peningkatan kapasitas pemda dan masyarakat terus ditingkatkan agar masyarakat tangguh menghadapi longsor. (BS-001)


Tag:

Berita Terkait