Beritasumut.com – Tambang Emas Martabe mengadakan training Emotional Spiritual Quatient (ESQ) bagi kepala desa (Kades) dan lembaga desa selama dua hari di Hotel Tor Sibohi, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sabtu-Ahad (7-8/3/2015).Peserta training sebanyak 41 orang, antara lain kades/lurah, Ketua BPD dan Ketua NNB dari 15 desa lingkar tambang di Kecamatan Batangtoru dan Muara Batangtoru, Tapsel dengan tujuan untuk meningkatkan kerja sama antarlembaga desa dalam menjalankan tugasnya melayani, mengabdi dan meningkatkan pembangunan desa.Kegiatan ini menghadirkan trainer Hasan Basri dari ESQ Leadership Center yang dipimpin Dr Ari Ginanjar Agustian. Acara dibuka oleh Camat Batangtoru Ahmad Raja Nasution dan turut dihadiri Ketua LKMM, Manajer Hubungan Masyarakat Tambang Martabe beserta beberapa staf yang mewakili perusahaan.Manajer Hubungan Masyarakat Tambang Martabe Pramana Triwahjudi mengatakan pembangunan yang tengah digalakkan oleh pemerintah mesti dipandang tidaklah sebagai sebuah pembangunan secara fisik saja. Namun, termasuk juga pembangunan mental. Training ESQ ini merupakan salah satu cara untuk membangun sikap mental baik secara emosional maupun spiritual sehingga tujuan pembangunan yang diharapkan oleh masyarakat desa dapat tercapai.Sementara Camat Batangtoru Ahmad Raja Nasution dalam sambutannya mengatakan bahwa Training ESQ ini sangat baik karena dapat mengisi dimensi kerohanian yang tanpa disadari sering dilupakan. Training ini bersifat universal karena memberikan pelajaran bagi kita bahwa tanpa kecerdasan emosional dan spiritual, pendidikan formal yang kita miliki tidak akan seimbang. Diharapkan dengan mengikuti training ini, para kepala desa dan lembaga desa sebagai aparat pemerintah akan semakin cerdas secara emosional dan spiritual sehingga dapat menjadi lokomotif perubahan secara terarah sesuai dengan visi dan misi mensejahterakan masyarakat.Sebelum memulai training, kepada para peserta Hasan Basri mengatakan permasalahan utama yang sering menghinggapi kita semua bahwa kemampuan (skill) dan pengetahuan (knowledge) sudah dirasa cukup dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Apakah itu dalam kehidupan keluarga, di tempat kerja atau pun dalam pergaulan sehari-hari. "Banyak diantara kita yang melupakan masalah perilaku (attitude) yaitu bagaimana menyikapi permasalahan yang tengah dihadapi. Di sinilah perlunya kecerdasan emosional dan spiritual. Tidak semata-mata kecerdasan intelektual," ujarnya. (BS-029)