Medan, (beritasumut.com) – Teror di Australia berlangsung selama 16 jam sejak Senin (15/12/2014) sekitar pukul 10 pagi. Penyanderaan dilakukan Man Haron Monis. Pria ini diketahui sebagai ulama asal Iran yang memiliki sejumlah rekam jejak kasus kriminal di Australia.Monis (49) imigran asal Iran itu baru saja keluar dari penjara tahun ini setelah terlibat kasus kekerasan seksual terhadap perempuan pada 2002. Monis juga didakwa dengan 40 kasus kriminal lainnya Oktober lalu.Meskipun pelaku dulunya di Iran dianggap ulama, lantas setelah menjadi imigran di Australia berkali-kali melakukan tindak kriminal, bahkan tahun ini dia baru lepas dari penjara, sudah secara otomatis gugur keulamaannya. Apalagi ditayangkan di beberapa media elektronik, bendera bertuliskan Arab berkain hitam yang menurut pemberitaan si pelaku memaksa beberapa sandera untuk memajangkannya. "Ini sangat menciderai Islam dan melukai hati muslimin sedunia yang tidak pernah menerima ajaran berbuat teror," ujar Safrizal, Koordinator Nasional Relawan Bersama Rakyat Bantu Harimau Nasional (BeRTuHAN) di Medan, Selasa (16/12/2014).Menurut Rizal, Australia wajib mengungkap identitas pelaku agar lebih transparan, sehingga, jangan sampai ada satu agama manapun yang jadi korban. "Bendera hitam bertuliskan Arab, lantang terbentang, jangan sampai pengumuman terkait hukum si pelaku kabur atau dikaburkan," ujarnya.Presiden Gerakan Aku Geram dan Anti Koruptor (GAGAK) ini menyesalkan awak media elektronik dan pemimpin redaksi yang terlalu dini menayangkan kain hitam bertuliskan Arab yang diduga itu milik si pelaku.Dijelaskannya, bahwa yang melakukan tindak teror, bagi kami ummat muslim, dia itu bagaikan hamba iblis dan setan, dan bukan lagi muslim. "Nah, jika mereka membawa simbol-simbol Islam, itu tak lebih dari pemanfaatan dan tindakan licik untuk mempengaruhi ummat muslim se dunia memberikan dukungan moril dan doa kepadanya," sebut Rizal.Ditambahkannya lagi, Australia jangan pernah mempolitisir tayangan yang ditonton seluruh dunia "ada bendera hitam bertuliskan Arab" ini. "Bisa saja ada pihak yang menginginkan peperangan tersulut antar agama, ini tindakan sangat biadab," tegasnya.Anehnya lagi, tambah Rizal, kenapalah tayangan bendera hitam bertuliskan Arab terkait berita penyanderaan kafe Australia di Indonesia, negeri yang mayoritas Muslim, ditayangkan berulang-ulang kali. "Mengapa media-media kita sekarang demi rating dan bisnis nilai-nilai kepatutan acapkali dikangkangi, kan bisa diblur saja tayangan bendera bertuliskan Arab itu, atau dipotong/sensor saja," ujarnya.Rizal kembali menegaskan, tak satupun agama di muka bumi ini mengajarkan teror. Jadi kalau ada pelaku teror membawa simbol agama, sensor saja, demi terjaganya marwah semua agama. "Transparan bukan berarti bebas menayangkan yang tak patut ditayangkan. Australia juga harus menjelaskan kepada rakyatnya, bahwa simbol Islam bisa saja dipakai seorang penjahat atau bandit," demikian Rizal. (BS-001)