Panyabungan, (beritasumut.com) – Penolakan terhadap PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) terus dilakukan warga, mulai dari demo ke kantor bupati, zikir akbar hingga memblokir jalan. Konflik ini harus secepatnya dituntaskan sebelum jatuh korban.Hal itu disampaikan Ketua Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Saparuddin Haji di Panyabungan, Ahad (30/11/2014).Dijelaskan, dengan adanya aksi-aksi penolakan ini Pemkab Madina dan DPRD Madina membuka mata untuk melakukan investigasi mendalam terkait penyebab masyarakat melakukan aksi penolakan.“DPRD Madina sudah seharusnya proaktif dalam menyelesaikan konflik ini sebelum semakin jauh dan berujung memakan korban. Anggota DPRD itu duduk di gedung terhormat itu dipilih rakyat, jadi sudah sewajarnya bertanggung jawab kepada rakyat,” tegasnya.Lanjut Sapar, pemerintah seharusnya juga menimbang dengan seksama apa saja yang menjadi kekhawatiran rakyat terhadap aktifitas dan dampak apa yang akan di hasilkan dari mega proyek milik perusahaan asing itu. “Jangan nanti nasi sudah menjadi bubur baru sibuk melakukan perbaikan,” tegasnyaMega proyek yang nota bene milik perusahaan asing ini jangan hanya datang mengambil hasil yang ada di wilayah Kabupaten Madina, sebab salah sedikit dalam proyek ini, bisa berakibat sangat fatal bagi masyarakat Madina umumnya dan masyarakat sekitar Gunung Sorik Marapi khususnya.Mengutip kalimat Harun Ahli Geologi Indonesia, Gunung Sorik Marapi di Kabupaten Madina termasuk dalam lima besar dunia kawah teraktif. Untuk itu, pemerintah harus lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan dengan memberikan izin kepada PT SMGP, sebelum peristiwa alam yang terjadi di Lapindo, Sidoarjo terjadi di Kabupaten Madina.“Mungkin hal ini yang menjadi kekhawatiran masyarakat sehingga mereka bersikeras menolak aktifitas PT SMGP beroperasi di wilayah Gunung Sorik Marapi,” ujarnya.Saparuddin Haji menambahkan, terkait beredarnya isu adanya dana gratifikasi terkait izin yang diperoleh PT SMGP di tengah masyarakat, aparat penegak hukum diharapkan proaktif dalam mengungkap kebenarannya. Sebab, bak pepatah mengatakan tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api, pungkasnya. (BS-026)