Hotspot di Riau Terus Meningkat

Redaksi - Minggu, 22 Juni 2014 01:57 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir062014/beritasumut_Sutopo3.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. (Dok)
Medan, (beritasumut.com) – Ancaman bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau makin nyata. Pada Sabtu (21/6/2014) pukul 07.00 WIB berdasarkan pantauan satelit Terra-Aqua hotspot di Riau sebanyak 250 titik. Pada Jumat (20/6/2014) hotspot 80 titik. Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui BBM, Sabtu (21/6/2014).Dijelaskan, dari 250 hotspot tersebar di Rokan Hilir 157, Bengkalis 39, Dumai 16, Rokan Hulu 11, Pelalawan 9, Kampar 8, Inhil 5, Kuansing 4 dan Siak 1. Jarak pandang di Rengat 3 km, Pelalawan dan Dumai 6 km, dan Pekanbaru 8 km. Cuaca diperkirakan akan semakin kering. Hal ini akan dapat memicu meningkatnya hotspot. Pola hotspot di Sumatera berdasarkan data Tahun 2006-2013, hotspot dominan pada Juni-Oktober dengan puncak pada Agustus dan Oktober. Kunci mengatasinya adalah penegakan hukum. Lahan gambut jika sudah terbakar akan susah dipadamkan. Antisipasi lebih efektif dibandingkan pemadaman. Masih menurut Sutopo, dampak karlahut di Riau selalu besar. Sebagai ilustrasi, dampak karhutla  di Riau selama 26 Februari 2014 hingga 4 April 2014, kerugian ekonomi mencapai Rp20 triliun, 2.398 ha cagar biosfer terbakar, 21.914 ha lahan terbakar, 58.000 orang terserang ISPA, sekolah diliburkan, hampir 6 juta jiwa terpapar asap dan lainnya. “Untuk mengatasi kebakaran itu, BNPB telah mengeluarkan Rp134 miliar, mengerahkan 4.931 personil gabungan, 11 helikopter dan pesawat dan lainnya,” papar Sutopo.Sejak 4 April 2014 penanggung jawab pengendalian karlahut di tangan Gubernur Riau. BNPB tetap mendampingi Pemda Riau dengan tetap melakukan operasi modifikasi cuaca dan menempatkan 3 helicopter water bombing hingga hari ini. Kemudian Kepala BNPB Syamsul Maarif telah memerintahkan Deputi Penanganan Darurat BNPB mengambil upaya memperkuat BPBD Riau dan provinsi lain. Kapolda Riau juga telah memerintahkan jajaran kepolisian di polres/polsek daerah Riau untuk membantu memadamkan dan memburu pada pelaku pembakaran. Mengajak Bupati/Walikota agar lebih peduli dalam penanggulangan karlahut, tandas Sutopo. (BS-001)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Titik Panas Menurun Drastis, Menteri LHK: Kolaborasi Bersama Berhasil Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Peristiwa

BMKG Pantau 12 Titik Panas Tersebar di Sumut

Peristiwa

Dua Titik Panas Terpantau BKMG di Madina

Peristiwa

Dua Titik Panas Terpantau di Sumut

Peristiwa

BMKG Pantau Satu Titik Panas di Sumut

Peristiwa

BMKG Sebut Hotspot di Sumatera Utara Meningkat Pesat Hingga 21 Titik