Panyabungan, (beritasumut.com) – Masyarakat Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), mengeluhkan arel persawahan yang kering sehingga bisa mengakibatkan gagal panen. Keluhan masyarakat tersebut disampaikan saat acara musrenbang di Aula Kantor Camat Panyabungan Utara, Selasa (11/2/2014) kemarin. Menyahuti keluhan masyarakat, usai acara musrenbang, Anggota DPRD Madina Iskandar Hasibuan langsung meninjau lokasi areal pesawahan yang terancam gagal panen.“Saya berharap pemerintah secepatnya mencari solusi antara lain aliran Sungai Batang Gadis supaya diperbaiki sehingga masyarakat di 6 desa bisa beraktifitas seperti biasa. Saya akan mengawal ini terus karena ini sudah menyangkut mata pencarian masyarakat,” ujar Iskandar di Panyabungan, Kamis (13/2/2014).Selain meninjau areal persawahan yang terancam gagal panen, Iskandar juga meninjau lokasi pembangunan jembatan rambin di Desa Desa Simanondong. Pasalnya rambin yang dibangun Tahun 2013 itu sudah mulai rusak. Bahkan pondasi jembatan sudah digerus aliran sungai.Sementara itu, Kepala Desa Barigin Jaya Abbas Siregar mengatakan, kekeringan yang mengancam ribuan hektar sawah gagal panen itu terdapat di 6 desa Kecamatan Panyabungan Utara yakni Desa Barigin Jaya, Sopo Sorik, Torbanua Raja, Kampung Baru, Suka Rame dan Simanondong. Kekeringan terjadi akibat hulu Sungai Simalagi yang berasal dari Sungai Batang Gadis kering ditambah tidak turunnya hujan.Dikatakannya, sejak pembangunan proyek Irigasi Aek Batang Gadis Tahun 1990 lalu, keenam desa tersebut mulai mengalami kekeringan. Padahal sebelum pembangunan Irigasi Aek Batang Gadis, keenam desa itu tidak pernah kekeringan.“Kami dari 6 desa juga sering melakukan pembersihan lumut di aliran hulu Sungai Batang Gadis agar sungai mengalir ke desa kami, di samping itu pengerokan Sungai Batang Gadis juga sering dilakukan oleh pemerintah. Namun tetap tidak berfungsi ke desa kami disebabkan pemerintah tidah mengatur atau membetulkan aliran sungai dan hanya melakukan pengorekan kotoran Sungai Batang Gadis,” ujarnya.Sejak kekeringan melanda desa, banyak warga beralih pekerjaan dari petani menjadi peternak, disebabkan susahnya mencari air di desa. Bahkan beberapa keluarga banyak yang pindah ke desa lain. Sejak Tahun 1990 banyak anak-anak yang tidak bersekolah lagi dikarenakan orang tua tidak mampu membiayai uang sekolah, karena mata pencaharian warga di 6 desa hanya bertani.“Kami sudah melaporkan peristiwa kekeringan ini ke pemerintah yakni ke Dinas Pertanian dan Plt Bupati Madina, namun hingga sampai saat ini belum ada tanggapan yang diberikan oleh pemerintah,” imbuhnya.Kondisi ini membuat para petani resah. Selain hujan tak kunjung turun, bantuan dan solusi dari pemerintah pun tak juga tiba. Akhirnya, para petani hanya beraktivitas membersihkan rumput yang tumbuh di sela tanaman padi.Pantauan di lokasi areal pesawahan enam desa terlihat sawah-sawah kering bahkan tanah persawahan retak disebabkan tanah tidak pernah tersentuh air dan terlihat tanaman padi layu dan kering.Muhammad Rijal (30) petani warga Baringin Jaya membuat sumur di daerah sawahnya untuk mendapatkan air guna untuk menyiram sawah agar tetap bisa melanjutkan tanaman padinya. (BS-026)