Pernyataan Conservation International Soal Kinerja LSP di Madina Upaya Pembelaan Diri

Redaksi - Minggu, 02 Februari 2014 16:17 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir022014/beritasumut_BPGC.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Google
Ilustrasi

Panyabungan, (beritasumut.com) – Batang Pungkut Green Conservation (BPGC) menilai pernyataan Conservation International (CI) melalui Terrestrial Communication Manager CI Primatmojo di salah satu media tentang program kemitraan pembangunan lansekap berkelanjutan atau Sustainable Landscapes Partnership (LSP) CI di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dinilai sebagai upaya pembelaan tanpa rasa malu.

Hal ini diungkapkan Koordinator Umum BPGC Syafruddin di Panyabungan, Ahad (2/2/2014).

Syafruddin menjelaskan pernyataan BPGC mengenai kinerja LSP CI di Madina sudah terkonfirmasi dengan pernyataan Kepala Bappeda Madina Abu Hanifah Lubis kepada media beberapa waktu lalu. Dengan tidak memenuhi ketentuan MoU tersebut sebenarnya CI telah menunjukkan arogansinya kepada Pemkab Madina. Pembelaan CI yang dilakukan Terrestrial Communication Manager CI Primatmojo di salah satu media menunjukkan bahwa CI tidak punya rasa malu sebagai sebuah lembaga internasional.

Salah satu program CI yang dinyatakan berhasil pada pemberitaan tersebut adalah workshop sosialisasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) bersama Pemkab Madina. BPGC merupakan peserta acara tersebut. Acara tersebut dinilai gagal karena kelompok kerja saja tidak terbentuk. 

“Bagaimana mungkin worskhop dinyatakan sukses dan mempunyai hasil? BPGC mengikuti kegiatan dari pembukaan sampai penutupan, pokja saja tidak terbentuk, bahkan acara lanjutan pada siang sampai sore hari ditinggalkan para pemangku kebijakan Pemkab Madina. Apakah itu dinamakan sukses? Kalau ini sukses, coba CI publikasikan hasil KLHS tersebut,” ujarnya.

Syafruddin juga menjelaskan, acara CI yang juga dinyatakan berhasil adalah diskusi fokus hutan. BPGC juga menjadi peserta pada acara tersebut. Khusus acara ini BPGC menilai bahwa acara tersebut adalah jebakan oleh CI kepada para kelompok tani yang diundang sebagai peserta. Karena pada acara tersebut para petani dibagi menjadi beberapa kelompok yang ditugaskan untuk melakukan identifikasi kerusakan hutan. 

“Coba anda pikirkan, apa hasilnya? Bukankah para petani akan melakukan pengakuan dosa sebagai perusak hutan? Kita tidak mau CI menyatakan petani Madina yang menggarap kebunnya dinyatakan perusak hutan dan dipublikasikan oleh CI kepada dunia internasional,” katanya.

Masih menurut Syafruddin, satu-satunya program CI yang bersentuhan dengan masyarakat langsung adalah pelatihan untuk petani karet. Terkait pelatihan tersebut, CI juga diduga hanya mengambil sampel daerah terdekat dengan Kota panyabungan yaitu seperti Aek Banir dan daerah Panyabungan Selatan. Lalu bagaimana dengan kelompok tani yang sempat dihubungi tapi program tidak jadi seperti kelompok tani di desa Alahankae, Kecamatan Ulupungkut dan kelompok tani di Desa Ujung Marisi, Kecamatan Kotanopan? kenapa dijanjikan pelatihan sadap karet, habis itu komunikasi pun diputus?

Mengenai program pelatihan sadap karet, BPGC menduga bahwa program tersebut adalah program sporadis yang  timbul begitu saja tanpa perencanaan melalui dokumen SIAP.

Oleh karena itu BPGC tetap mendesak Bappeda Madina dan CI untuk transparan kepada publik. Artinya tidak merahasiakan dokumen rencana aksi investasi berkelanjutan atau Sustainable Investment Action Profile (SIAP) sebagai bentuk turunan dari MoU antara Pemkab Madina dan CI. Apabila Bappeda Madina dan CI tidak transparan maka BPGC akan mengirim surat kepada USAID dan The Walton Family Foundation sebagai pihak yang memberikan donasi kepada CI atas program LSP di Madina juga Dewan Kehormatan CI di Amerika. 

“Kita hanya ingin program CI di Madina dapat bermanfaat bagi masyarakat. Omong kosong itu konservasi tanpa diiringi dengan upaya-upaya peningkatan kemampuan ekonomi rakyat. Rakyat tak butuh lokakarya. Workshop di ruang ber AC hotel. Yang rakyat butuhkan adalah upaya peningkatan kemampuan perekenomian,” pungkasnya. (BS-026)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Saksi Pelapor Sakit Tak Bisa Bicara, Bupati Madina untuk Sementara Aman

Peristiwa

Empat Daerah di Sumut Belum Ambil Vaksin Meningitis untuk Calon Jamaah Haji

Peristiwa

Dinkes Kota Medan Tunjuk 21 Puskesmas Layani Vaksin Meningitis Calon Jamaah Haji

Peristiwa

Wakil Bupati Labuhanbatu Buka Manasik Haji Akbar 1437 H/2016 M

Peristiwa

Padanglawas Kloter Pertama Jamaah Haji Embarkasi Medan

Peristiwa

Menag: Hotel, Katering dan Transportasi Haji Sesuai Harapan