Medan, (beritasumut.com) – Sejak terjadinya erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Tanah Karo pada 15 September 2013 hingga saat ini, sudah enam kali terjadi perpanjangan waktu tanggap darurat.
Penjelasan ini disampaikan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Kabupaten Tanah Karo untuk melihat perkembangan terakhir kondisi Gunung Sinabung, Kamis (23/1/2014).
Dikatakan Gatot, masa tanggap darurat pertama, diberlakukan mulai 10 hingga 16 November 2013, kedua 17 sampai 23 November 2013, ketiga 24 November sampai 7 Desember 2013, keempat 8 hingga 21 Desember 2013, kelima 5 Januari sampai 18 Januari 2014 dan keenam 19 sampai 25 Januari 2014.
Durasi ini menjadikannya sebagai waktu tanggap darurat bencana terpanjang dalam sejarah kebencanaan di Sumut.
Gubernur juga memaparkan laporan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, aktivitas vulkanologi gunung api sinabung hingga hari ini juga masih tinggi, ditandai dengan intensitas tremor yang berlangsung secara terus menerus, telah terjadi lebih dari 750 kali erupsi.
Tentunya, dengan kondisi ini, jelas belum memungkinkan bagi kita untuk menurunkan status gunung yang tertidur lebih dari 800 tahun ini dari status awas (Level IV).
Sementara Komandan Tanggap Darurat Penanganan Bencana Erupsi Sinabung melaporkan, jumlah pengungsi saat ini berasal dari 23 desa dan dua dusun di empat kecamatan sudah mencapai 28.715 jiwa atau 9.045 kepala keluarga yang tersebar di 42 pos pengungsian di Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat.
Sebagian besar pengungsi ditampung di jambur, rumah ibadah, gedung pertemuan dan tanah lapang. dan hingga kini, masyarakat belum diizinkan pulang ke rumah terutama bagi mereka yang tinggal di radius 6 kilometer karena gunung api sinabung masih dalam status awas.
Dampak erupsi selama 4 bulan terakhir menimbulkan kerugian material bagi masyarakat. Abu erupsi mengakibatkan kerusakan lahan pertanian tanaman pangan 1.837 ha, tanaman hortikultura 5.716 ha, tanaman buah 1.630 dan tanaman bio farmaka 1,7 ha, serta tanaman perkebunan 2.856 ha.
Selain itu, infrastruktur berupa gedung sekolah, pemukiman masyarakat, rumah ibadah mengalami kerusakan berat sedang dan ringan mencapai lebih kurang 1.288 unit.
Dalam penanganan pengungsi erupsi Gunung Api Sinabung ini, Pemerintah Kabupaten Karo dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama TNI/Polri telah melakukan beberapa langkah penanganan, diantaranya mengadakan koordinasi dengan seluruh unsur-unsur terkait, memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada, memberdayakan segala potensi yang dapat mendukung pelaksanaan penanganan bencana, terutama penanganan dini terhadap pengungsi di lokasi penampungan dengan menyediakan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan dan pelayanan bagi pendidikan anak-anak di pengungsian.
Selanjutnya, dalam membantu Pemkab Karo, Pemerintah Provinsi Sumut telah membentuk tim pendampingan dalam penanganan bencana erupsi Gunung Sinabung dengan melibatkan lintas SKPD dan lintas instansi, TNI dan Polri untuk turun langsung memperkuat Pemkab Karo untuk percepatan penanganan pengungsi.
Selain itu, Pemprov Sumut secara terus menerus melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sejak erupsi September 2013 hingga saat ini dukungan logistik dari BNPB tetap berlangsung, sehingga pelaksanaan penanganan pengungsi dapat berlangsung tertib dan lancar tanpa ada sesuatu hambatan berarti.
Gubernur juga memaparkan, mencermati adanya rekomendasi pusat vulkanologi mitigasi bencana geologi, Pemprov Sumut bersama Pemkab Karo merencanakan untuk merelokasi pemukiman korban erupsi Gunung Sinabung ke lokasi aman. Program ini sebagai upaya antisipasi dan penyelamatan warga dari dampak letusan Gunung Sinabung yang sulit diprediksi.
Relokasi direncanakan dalam dua tahap. Tahap pertama khusus bagi warga yang tinggal di radius 3 kilometer dari Gunung Sinabung sebanyak 3.437 jiwa atau 921 KK yang berada di 5 desa. Kemudian tahap selanjutnya adalah radius 5 kilometer dari Gunung Sinabung.
Berdasarkan itu, beberapa langkah mendesak yang perlu dilaksanakan adalah penyediaan rumah hunian sementara bagi warga, pemberdayaan masyarakat melalui program padat karya dan penghapusan kredit bagi petani yang lahannya mengalami gagal panen.
“Harapan kami kepada Bapak Presiden adalah dukungan penuh dari kementerian/lembaga terkait dan bumn untuk lebih meningkatkan kepedulian terhadap program relokasi warga pengungsi erupsi Gunung Sinabung. Di samping itu, karena sebahagian besar pengungsi yang sumber mata pencahariannya 40 persen bergantung pada pertanian dan perkebunan, besar harapan kami dukungan penuh dari kementerian/lembaga terkait dan bumn dalam upaya melakukan langkah-langkah ke depannya, pasca erupsi Gunung Sinabung,” ujar Gatot.
Tak lupa dalam pertemuan tersebut, Gubernur Sumut juga memberikan apresiasi donatur yang telah menbantu, baik dalam bentuk dana, logistik, pakaian, tenaga maupun doa. “Untuk itulah, pada tempatnya perkenankan kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada BNPB dan TNI/Polri serta organisasi sosial kemasyarakatan, dunia usaha yang telah memberikan bantuan moril maupun materiil untuk korban erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo,” kata Gatot. (BS-021)