Medan, (beritasumut.com) – Launching penggalian kuburan gajah merupakan momentum penting bagi Pemko Medan melalui Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan, sektor swasta serta masyarakat luas akan pentingnya mengkampanyekan penyelamatan sumber daya genetik di Indonesia. Di samping itu penggalian ini juga dilakukan dalam rangka pembangunan Museum Medan Zoo.
“Selain itu penggalian kuburan gajah ini akan merangsang penelitian-penelitian yang lainnya untuk lebih menggali lagi pengetahuan-pengetahuan yang dapat bermanfaat dalam membentuk masyarakat Kota Medan yang cerdas, berkarakter dan bermartabat,” kata Pelaksana Tugas Walikota Medan Dzulmi Eldin ketika menyaksikan penggalian kuburan gajah di Medan Zoo, Jalan Bunga Rampai IV, Kelurahan Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan, Jumat (7/6/2013).
Bagi Medan Zoo, jelas Eldin, penggalian kuburan Gajah Sumatera (Elephans Maximus Sumateranus) ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas Medan Zoo tidak hanya tempat rekreasi semata tetapi juga sebagai wahana kepentingan riset, penelitian dan edukasi bagi para pelajar.
“Jadi tulang belulang gajah ini akan dikumpulkan dan disatukan kembali. Setelah itu akan ditempatkan dalam Museum Medan Zoo yang akan segera dibangun di areal Medan Zoo ini. Tentunya kehadiran museum ini dapat dijadikan sebagai tempat riset, penelitian dan edukasi. Tentunya ini bisa dijadikan sebagai momentum pengembangan Medan Zoo,” jelasnya.
Dihadapan Sekda Syaiful Bahri Lubis, Dirut PD Pembangunan Harmen Ginting, Pimpinan SKPD Pemko Medan, Camat, Ketua Tim Institut Pertanian Bogor (IPB) Ani Maria Astuti, Rosichan Ubaidillah, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Sumatera Utara Istanto, Kacab Bank Syariah Mandiri Cabang Medan Indra Kesuma Yuzar yang juga ikut menyaksikan penggalian, Eldin berharap agar penggalian ini menjadi pintu masuk bagi semua agar mengenal lebih dekat kekayaan alam margasatwa.
“Apalagi negara kita disebut sebagai negara Mega Biodiversity. Artinya, memiliki keanekaragaman sumber daya alam hayati yang luar biasa. Tercatat negara kita memiliki 90 tipe ekosistem dan 40.000 spesies tumbuhan serta sekitar 300.000 spesies hewan yang tersebar di seluruh nusantara. Jadi sudah selayaknya anugerah dari Tuhan ini kita syukuri, kelola dan manfaatkan secara bijaksana, sebaik-baik dan sebesar-besarnya,” ungkapnya.
Terkait dengan rencana pembangunan Museum Medan Zoo, Eldin mengatakan Pemko Medan sangat mendukungnya. Anggaran pembangunannya akan disiapkan tahun depan dalam bentuk dana penyertaan modal. Ketika disinggung berapa besarnya anggaran yang akan disediakan, Eldin mengatakan teragntung berapa besar proposal yang diajukan PD Pembangunan.
Sementara itu menurut Dirut PD Pembangunan Harmen Ginting, Medan Zoo selama ini dikesankan hanya sebagai tempat hiburan. Padahal Medan Zoo sebagai Lembaga Konservasi punya tujuan mulia yakni sebagai tempat penelitian, riset dan edukasi.
“Sesungguhnya kebun binatang ini museum hidup, tetapi sebagai museum hidup akan susah bagi kami melengkapinya dengan seluruh hewan. Karenanya, museum hidup ini harus dilengkapi dengan museum. Dengan demikian jika ada satwa-satwa yang tidak kita miliki, bisa kita minta di tempat lain sehingga antara kjebun binatang dengan museum saling melengkapi,” jelas Harmen.
Atas dasar itulah Harmen mengaku, pihaknya ingin membangun museum di Medan Zoo. “Untuk mengisi museum itu, kita sudah memikirkan antara lain mengisinya dengan kerangka gajah. Makanya hari ini kita menggali kuburan gajah yang telah dikubur sekitar 5 tahun lalu. Selanjutnya kerangka gajah hasil galian itu kita niatkan untuk edukasi mengisi museum tersebut,” paparnya.
Menurut Harmen, penggalian kuburan gajah ini didukung sepenuhnya oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonsia (LIPPI). Sebab, kegiatan ini tidak hanya untuk edukasi saja tetapi juga sebagai sarana penelitian. Di samping itu pihaknya juga telah melaunching Satwa Masuk Sekolah (SMS). Secara bertahap, setiap sekolah akan mereka kunjungi sehingga seluruh siswa dekat dengan satwa.
“Antara satwa, tumbuhan dan manusia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Selama ini satwa masih dianggap musuh. Contohnya jika orang melihat ular, kalimat yang keluar hanya pukul atau bunuh. Mindset ini yang ingin diubah di tengah masyarakat kita, sebab satwa ini merupakan bagian dari kita. Artinya, kita harus bisa hidup berdampingan,” harapnya. (BS-024)