Medan, (beritasumut.com) – Berdasarkan data dari Kementerian Kesehahatan Republik Indonesia Tahun 2012, kasus HIV/AID yang terjadi di Sumatera Utara sebanyak 6.430 kasus. Dari jumlah tersebut, kasus HIV yang terjadi sebanyak 2.189 kasus, sedangkan AIDS sebanyak 4.2412 kasus.
“Jadi total keselurahan kasus HIV/AIDS yang terjadi di Sumut sebanyak 6.430 kasus dan 751 penderitanya meninggal dunia. Untuk itulah kita merasa perlu untuk mensosialisasikan dan mendiskusikan kepada masyarakat sehingga dapat mencegah maupun menghindari agar tidak terjangkit penyakit yang mematikan tersebut,” kata Staf Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dr Afriana Herliana ketika menjadi narasumber pada kegiatan sosialisasi dan diskusi tentang Kebijakan Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Medan di City Hall Grand Aston Hotel, Medan, Sumatera Utara, Jumat (22/03/2013).
Menurut Afriana, Kementerian kesehatan menerapkan tiga program dalam rangka mencegah terjangkitnya penyakit HIV/AIDS yang dengan Program Three Zero yakni mengurangi kasus baru, mengurangi kematian dan mengurangi stigma/diskriminasi masyarakat terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).
“Program Three Zero ini akan kita sosialisasikan kepada masyarakat, terutama kalangan remaja sehingga mereka dapat mengetahui bahaya yang akan ditimbulkan apabila terjangkit virus HIV/AIDS, termasuk proses penularannya. Dengan sosialisasi ini kita harapkan dapat menekan jumlah warga yang terjangkit virtus HIV/AIDS,” jelas Afriana.
Sementara, Walikota Medan Rahudman Harahap ketika membuka kegiatan tersebut mengungkapkan, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Medan sejak Januari 2006 sampai Desemeber 2012 tercatat 3.410 kasus HIV/AIDS di Kota Medan. Dimana berdasar faktor rersiko tertinggi melalui kelompok heteroseksual yang mencapai 2.198 kasus, sedangkan yang kedua dari penasus (pengguna napza suntik) sebanyak 958 kasus.
“Meningkatnya angka penularan HIV/AIDS secara seksual terutama melalui hubungan seks, telah menggantikan posisi penularan lewat jarum suntik di kalangan pengguna napza suntik sebagai jalur utama penularan HIV di Kota Medan. Meningkatnya angka penularan melalui kelompok heteroseksual menyebabkan semakin rentannya penularan kepada kelompok resiko rendah seperti ibu rumah tangga dan bayi,” kata Rahudman.
Untuk itu, guna memutus mata rantai penularan HIV/AIDS perlu adanya kesadaran dari semua pihak terkait, terutama populasi kunci dan kader pendidik sebaya pada komunitas resiko tinggi untuk bukan hanya tahu mengenai pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS namun juga perlu menyadari dengan sungguh-sungguh untuk menerapkan pengetahuan pencegahan dan penggulangan yang telah diterima untuk dikembangkan pada komunitas dampingannya serta mengaplikasikan pengetahuannya tentang HIV/AIDS yang telah dipelajari pada kehidupan sehari-hari.
“Jadi kita harapkan hasil sosialisasi ini dapat menjadi pedoman bagi Pemko Medan sebagai pelaksana kegiatan HIV/AIDS untuk peserta agar hasil sosialisasi dan diskusi ini dapat dipahami serta menjadi acuan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan penaggulangan dan pencegahan HIV/AIDS di tengah masyarakat Kota Medan, “ harapnya. (BS-024)