beritasumut.com- Karakter, integritas, serta pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan sosial yang semakin cepat. Apalagi generasi muda itu tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan penguasaan teknologi untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Hal itu terungkap dalam kegiatan diskusi Penguatan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bagi Pelajar untuk Indonesia Emas 2045 yang digelar Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sumatera Utara (Sumut) Bidang Ideologi, Demokrasi dan Pembangunan Strategis (IDPS) di SMK PAB 2 Helvetia, Jalan Veteran Pasar IV Helvetia, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti para pelajar dan dihadiri sejumlah unsur organisasi serta pemerintahan setempat. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Deli Serdang, kemudian dilanjutkan dengan doa.
Anggota DPRD Sumut dari Fraksi Demokrat, Hj Anita Lubis memberikan sambutan dengan menekankan pentingnya penanaman nilai kebangsaan sejak usia sekolah.
Menurutnya, generasi muda perlu memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat agar perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan sosial tidak menghilangkan jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Sambutan Kepala SMK PAB 2 Helvetia dan mewakili Camat Labuhan Deli. Materi diskusi disampaikan Borkat Hasibuan, dipandu moderator Syahrial Effendi. Sedangkan doa disampaikan Junianto Sitorus.
Dalam pemaparan materi, Pancasila diperkenalkan tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai nilai yang dapat menjadi pedoman pelajar dalam kehidupan sehari-hari.
"Nilai tersebut mencakup penghargaan terhadap keberagaman, menjaga persatuan, membangun toleransi dan bertanggung jawab sebagai warga negara," ujar Borkat Hasibuan dalam materinya.
Perkembangan teknologi informasi, lanjutnya, juga menjadi salah satu tantangan yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut. Pelajar sebagai kelompok yang sangat dekat dengan media digital dinilai perlu memiliki kemampuan menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai konten yang dapat memicu perpecahan.
"Wawasan kebangsaan, dengan demikian, tidak hanya berkaitan dengan pemahaman sejarah dan simbol-simbol negara, tetapi juga bagaimana generasi muda bersikap dalam menghadapi perbedaan dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab," jelasnya.