Beritasumut.com - Matematika memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan dalam rangka mengembangkan kreaivitas peserta didik. Relevansi matematika tidak hanya dalam kegiatan formal di kelas, namun cakupan matematika lebih luas dalam setiap lini kehidupan manusia. Bahkan aktivitas kita sehari-hari juga menggunakan matematika. Hal paling sederhana seperti saat berbelanja atau membuat secangkir teh yang memerlukan takaran dan kombinasi matematika.
"Besarnya peran matematika dalam kehidupan manusia, memaksa guru matematika harus memiliki kemampuan dalam memahami materi matematika terutama kemampuan guru dalam menyusun soal kontekstual dengan baik," demikian ungkap Dosen Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah, Hizmi Wardani, M.Pd., kepada wartawan, Sabtu (30/12/2023).
Hizmi menyebut, dirinya selaku Ketua Tim Dosen UMN telah melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bersama anggotanya Ramadhani, M.Pd. Dalam kegiatan itu, pihaknya mendampingi guru-guru di Yayasan Perguruan Darussalam Ardagusema agar memiliki keterampilan pembuatan soal matematika berbasis kontekstual. "Pelatihan dan pendampingan ini dilakukan mengingat besarnya peran matematika dalam kehidupan manusia. Kami juga ingin guru dapat membantu peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif," harapnya.
Ditambahkan Ramadhani, M.Pd, adapun tantangan terbesar guru saat ini adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. "Terlebih saat ini kita sudah berada di era society 5.0. Era yang mengharuskan guru untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu bersaing secara nasional maupun global. Kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, berkolaborasi, dan berkomunikasi yang sering disebut sebagai keterampilan abad 21 merupakan keterampilan berpikir harus ditanamkan sejak bangku sekolah dasar. Oleh karena itu, guru perlu membiasakan peserta didik menyelesaikan masalah matematika melalui soal-soal kontekstual dalam setiap pembelajaran," paparnya.
Minimnya pengetahuan dan kemampuan guru, lanjut Ramadhani, menjadi penghambat tercapainya keterampilan tersebut. "Sehingga kami menilai, perlu adanya pendampingan penyusuan soal matematika berbasis kontekstual. Dari hasil wawancara, diperoleh informasi yaitu kebanyakan guru belum memiliki kompeten dalam mengembangkan dan menyusun soal matematika," sambungnya.
Dia menuturkan, yang terjadi selama ini guru hanya memberi soal-soal dalam bentuk prosedural dan bersifat soal rutin. "Pembiasaan ini mengakibatkan peserta didik tidak memiliki keterampilan pemecahan masalah. Karenanya, melalui kegiatan PKM juga dirangkum dalam Umnaw.ac.id ini kami harapkan mampu memberikan manfaat yang besar bagi guru-guru di Yayasan Perguruan Darussalam Ardagusema. Sehingga ke depannya, guru mampu merancang dan menyusun soal kontekstual dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik," pungkas Ramadhani. (BS02)