Beritasumut.com - Proyeksi kurikulum di Era Society 5.0 menuntut 3 hal diantaranya pendidikan karakter, kemampuan berpikir tingkat tinggi (high Order Thingking Skill (HOTS), dan kemampuan mengaplikasikan teknologi. Guru merupakan salah satu komponen utama untuk mencapai proyeksi kurikulum di era digitalisasi tersebut. Oleh karenanya perlu adanya adaptasi yang baik antara guru dan teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Namun kenyataan masih banyak guru-guru masih belum melek teknologi. Guru-guru di Yayasan Hafnan Simbolon juga mengalami hal yang sama.
Demikian ungkap Ketua Tim Dosen Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah, Hizmi Wardani M.Pd kepada wartawan, Sabtu (31/12/2022). Hizmi menyebutkan, melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), didampingi anggota lainnya yaitu Ramadhani M.Pd dan Nurmairina M.Pd, pihaknya berupaya agar guru selain memiliki pemahaman tentang inovasi pembelajaran yang terbarukan serta guru memiliki kemampuan dalam merancang pembelajaran yang berbasis masalah serta dapat mengimplementasikannya di dalam kelas.
"Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual. Tujuan PBL adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan baru/nyata, pengitegrasian konsep high order thiking skill (Hots), keinginan dalam belajar, mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan," kata Hizmi.
Sementara itu, Ramadhani M.Pd menambahkan, tantangan terbesar guru saat ini adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. "Terlebih saat ini sudah berada pada era society 5.0 mengharuskan guru untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu bersaing secara nasional maupun global. Peserta didik harus dibekali kemampuan berpikir tinggi untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Kemampuan-kemampuan yang perlu dibekalkan kepada peserta didik antara lain adalah kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, berkolaborasi, dan berkomunikasi yang sering disebut sebagai keterampilan abad 21," bebernya.
Kemampuan serta keterampilan tersebut, lanjutnya, dapat terwujud apabila pembelajaran yang dilakukan guru mengarah pada level berpikir tingkat tinggi yaitu berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah. "Keterampilan yang diharap pada abad 21 masih perlu mendapat perhatian serius. Minimnya pengetahuan guru menjadi penghambat tercapainya keterampilan tersebut sehingga perlu adanya inovasi baru dalam pembelajaran yang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, semua kalangan terutama sektor pendidikan untuk dapat beradaptasi terhadap digitalisasi sistem pendidikan yaang sedang berkembang hingga mengubah cara pandangnya terhadap pola pengajaran," sambungnya.
"Kami berharap, kegiatan PKM ini mampu memberikan manfaat yang besar bagi guru-guru di Yayasan Hafnan Simbolon sehingga guru-guru mampu merancang pembelajaran inovasi dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa," ungkap Nurmairina M.Pd. (BS02)