Buku Bocah Kebon dari Deli tentang Prof Supandi, Edy Rahmayadi: Semoga Banyak Dibaca Generasi Muda

- Sabtu, 18 September 2021 08:00 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir092021/_1636_Buku-Bocah-Kebon-dari-Deli-tentang-Prof-Supandi--Edy-Rahmayadi--Semoga-Banyak-Dibaca-Generasi-Muda.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST

Beritasumut.com - Buku berjudul ‘Bocah Kebon dari Deli’ menarik perhatian Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi. Dia berharap buku ini banyak dibaca orang, terutama generasi muda untuk mendorong semangat menggapai cita-cita. ‘Buku Bocah Kebon dari Deli’ merupakan buku kisah hidup Profesor Supandi, hakim agung Mahkamah Agung RI. Seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di pinggiran Deli, tepatnya di perkebunan Tembung hingga menjadi seorang profesor dan ahli hukum.

Kisah ini, menurut Edy Rahmayadi, perlu diketahui anak-anak muda Indonesia, khsusunya Sumut, agar terlahir ‘Supandi-Supandi’ lain dari Sumut. Buku ini menurutnya juga bisa menjadi pelajaran tentang bagai mana seseorang bersikap, karena banyak nilai-nilai kemanusiaan dan agama di dalamnya. “Harusnya ini banyak dibaca orang-orang terutama generasi penerus bangsa agar lahir Supandi-Supandi lain dari sini. Banyak nilai yang bisa kita dapatkan dari buku ini,” kata Edy Rahmayadi usai acara bedah buku Bocah Kebon dari Deli secara virtual, di Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Sudirman No.41, Kota Medan, Jumat (17/09/2021).

Edy Rahmayadi juga sempat menceritakan betapa sulitnya hidup di era Prof Supandi masih kecil, apalagi dia tinggal di daerah perkebunan. Namun, karena tekad Supandi untuk bisa bersekolah sangat kuat kesulitan itu bisa teratasi. “Kalau dulu di era Prof Supandi masih kecil orang-orang di kebon itu ulat turi pun dimakan, karena sulitnya makanan. Namun beliau sekarang jadi Profesor, hakim agung. Kita yang hidupnya sudah enak, sekolah mudah makanan tercukupi masih malas-malasan. Inilah, perlunya membaca buku ini biar kita tahu, menjadi cambuk untuk kita,” tambah Edy Rahmayadi.

Baca Juga : Resensi Buku 100 Anak Tambang Indonesia

Supandi sendiri mengungkapkan sulit bila dia kembali menceritakan kisah hidupnya karena cukup menyedihkan. Seperti kakeknya, Ki Ibrahim yang terpaksa lari dari Trangkil dan tinggal di Deli karena berseteru dengan mandor Pabrik Gula Belanda. Kemudian ada juga kisah neneknya Mbah Surip yang diculik saat usia 14 tahun dan di bawa ke Deli untuk menjadi pekerja kebon.

[br] Ada juga kisah ayahnya Ngadimun yang bergabung dengan pasukan Djamin Ginting dan Bejo menderita sakit paru-paru parah karena terlalu lama di hutan saat agresi Belanda I dan II. Itu membuat Supandi dibesarkan oleh kakek dan neneknya yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja kebon. “Saya kalau menceritakan ini kembali tertahan di sini (sambil menunjukkan lehernya dan menahan air mata), sulit karena cukup sedih. Tetapi, karena penulisnya mengatakan ini tidak hanya bisa menjadi biografi tetapi juga sebuah buku dan menjadi warisan untuk generasi kita, saya semangat,” kata Supandi.

Dia juga mengatakan bangga Provinsi Sumut dipimpin Gubernur Edy Rahmayadi dan berharap tanah kelahirannya bisa lebih maju di tangan mantan Pangkostrad tersebut. “Saya bangga Sumut dipimpin Pak Edy Rahmayadi, tolong majukan kampung halaman saya,” kata Supandi, sambil meneteskan air mata.

Menurut keterangan penulis buku Bocah Kebon dari Deli, Irawan Santoso buku ini ditulis dengan gaya novel dan bahasa yang ringan sehingga tidak membuat bosan pembacanya walau terdiri dari 438 halaman. Banyak kisah-kisah yang humanis, heroik dan menunjukkan bagaimana kuasa Allah bekerja. “Bayangkan, Pak Supandi bisa membawa kakek neneknya kembali ke kampung halaman mereka setelah tidak pulang selama 50-an tahun. Pak Supandi bisa menelisik kembali silsilah keluarganya yang sempat terputus bahkan mempertemukan orang-orang yang menyangka nenek dan kakeknya sudah tidak ada lagi. Ini kisah yang sangat mengharukan apalagi kita tahu beliau adalah keturunan dari pasukan elit Diponegoro,” kata Irawan.

Baca Juga : Tingkatkan Minat Baca Masyarakat Sumut, GPMB Diharapkan Terbentuk di Seluruh Kabupaten/Kota

Turut hadir pada acara bedah buku tersebut Rektor Undip Yos Yohan Utama, Mantan Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan dan dosen serta guru-guru Supandi. Hadir juga jajaran Mahkamah Agung dan juga beberapa perwakilan Pengadilan Tinggi se-Indonesia. (BS09)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Guru Madrasah Asal Sumut Raih Rekor MURI Penulisan Buku Antologi Puisi Etnik Nusantara

Pendidikan

Serahkan LKPD Tahun 2024 ke BPK, Gubernur Sumut Targetkan Raih WTP ke-11

Pendidikan

Gubernur Sumut Luncurkan Mudik Gratis Lebaran Bagi Mahasiswa di Luar Sumatera

Pendidikan

Gubernur Sumut Sampaikan Lima Plus Satu Program Prioritas Pembangunan

Pendidikan

Tri Sumatera Hadirkan Pembelajaran Digital dan Sportivitas di Nias Selatan

Pendidikan

Lantik 12 Pejabat Tinggi Pratama, Wagub Sumut Minta Tunjukkan Kinerja yang Lebih Maksimal