Beritasumut.com-Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) bekerjasama dengan Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Sumatera Utara (Sumut) mengadakan seminar literasi informasi di Aula BPAD Sumut, Rabu (23/11/2016). Seminar bertajuk 'Media Sosial sebagai Strategi Perpustakaan dalam Meningkatkan Literasi Informasi' ini diikuti oleh kalangan pustakawan, guru, hingga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Menghadirkan dua pemateri yang mumpuni di bidangnya yakni Abdul Hafiz Harahap MHum dan Wahyu Blahe, APISI berupaya memberikan sentuhan baru dalam rangka pengembangan kepustakawan sekolah. Hal ini dibenarkan oleh Ketua APISI Sumut, Syafrizal. Dia menjelaskan, APISI sebagai lembaga pembimbing pustakawan untuk menggerakkan literasi informasi di tempatnya bekerja. "Literasi informasi maksudnya adalah bagaimana seseorang dapat menggunakan, menelusuri, mengakses informasi dengan benar dan beretika. Karenanya perlu ada bimbingan dari pustakawan. Tidak semua informasi yang beredar itu benar. Perlu filter dan kompetensi untuk dapat mengevaluasi informasi itu sebelum dijadikan sumber. Kalau ini sudah jalan, tidak ada lagi kita yang menyebarkan berita hoax atau spam, karena sudah paham dan melek literasi," papar Syafrizal. "Salah satu fenomena yang paling spektakuler itu ya budaya copy-paste di kalangan akademisi. Tak hanya itu, kasus-kasus plagiarisme juga semakin berbahaya bila tidak segera ditangani. Maka kita tekankan, yang harus segera paham literasi informasi itu para pustakawan dan kalangan pendidik, supaya bisa ditularkan kepada siswa hingga ke masyarakat luas," sambungnya. Narasumber seminar, Abdul Hafiz Harahap M Hum, Dosen Ilmu Perpustakaan dan juga penulis buku Library POP ini mengaku dirinya sudah sangat jengah dengan kesan pustakawan yang galak dan kaku. "Semuanya harus ada inovasi dan promosi. Perpustakaan dan pustakawan harus berbenah. Kita tidak bisa duduk diam menunggu orang-orang meminjam buku. Buku bukanlah benda mati yang berdebu hingga nanti ada yang membutuhkannya. Tidak. Seorang pustakawan itu haruslah seseorang yang paham kalau perpustakaan itu punya value, nilai yang amat sangat berharga. Maka perlu dan penting untuk dipromosikan," jelasnya. Senada dengannya, Wahyu Blahe, Blogger, Founder Ceritamedan.com mengutarakan pengalamannya sebagai pengguna sosial media yang mesti memahami literasi informasi. "Sosmed (sosial media) ini sangat bermanfaat sebagai media promosi perpustakaan. Penggunaannya juga tidak terbatas waktu dan tempat. Saat ini, apalagi didukung dengan perangkat teknologi yang canggih, semua orang bisa mendokumentasikan apa saja. Sehingga nantinya, kita juga tak heran bisa mengakses informasi apa saja di dalamnya," katanya. Sementara itu, Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Sumut, yang diwakilkan oleh Suryanti SE mengungkapkan kegelisahannya terhadap fenomena kepustakawan saat ini yang belum melek literasi informasi. "KIta sudah bosan dengan cara-cara lama yang kaku dan tidak berdampak banyak. Pustakawan ini harus dilatih melayani dengan tulus dan dikembangkan mind set kreatifnya," katanya. "Ini supaya semua orang gemar membaca dan senang berkunjung ke pustaka, terutama Pustaka Daerah Sumut. Kalau sampai masih saja ada pegawai pustaka yang galak, tak acuh, silahkan laporkan ke saya," tegas Suryanti. (BS02)