Ketua Umum Kiai Muda Indonesia Kritisi Pendidikan NU dan Muhammadiah

- Minggu, 25 September 2016 20:15 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir092016/8739_Ketua-Umum-Kiai-Muda-Indonesia-Kritisi-Pendidikan-NU-dan-Muhammadiah.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST
Ketua Umum Kiai Muda Indonesia, Gus Wahyu NH Aly dan Ust DR Agus DH Lc MA.
Beritasumut.com-Ketua Umum Kiai Muda Indonesia, Gus Wahyu NH Aly mengkritisi pendidikan yang mengklaim bernafaskan keIslaman seperti pendidikan NU dan Muhammadiah. Hal ini disampaikan di depan ratusan jamaah Ashabul Kahfi di kantor pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di masjid An-Nahdlah, Sabtu (24/09/2016) malam.

 

“Kemiskinan dalam Islam itu tidak terpenuhinya kebutuhan pokok baik salah satu atau keseluruhannya dari kebutuhan pangan, sandang, papan, akses pendidikan, dan akses kesehatan karena faktor ekonomi. Faktanya, sampai saat ini seperti apa upaya serius dari organisasi besar seperti NU dan Muhammadiah dalam mengupayakan akses pendidikan untuk umatnya?” ujar Gus Wahyu dalam siaran persnya.

 

Pendidikan sebagai kebutuhan primer dalam perpekstif Islam, menurutnya suatu kebutuhan yang tidak pantas dibisniskan. Seharusnya juga, katanya, NU dan Muhammadiah mengupayakan pendidikan gratis untuk umatnya.“Tidak terakses pendidikan karena faktor ekonomi, maka termasuk kategori miskin. Kemiskinan sendiri dalam Islam hukumnya fardhu kifayah. Artinya, apabila ada di kalangan masyarakat yang tidak bisa kuliah karena faktor ekonomi, maka wajib secara kolektif bagi kalangan yang mampu untuk mengupayakan akses pendidikan untuk masyarakat tak mampu itu,” tambahnya.

 

Pada kesempatan tersebut, cucu KH. Abdullah Siradj Aly ini juga mengatakan, jumlah warga NU di Indonesia ada lebih dari 100 juta. Pada saat yang sama, warga NU-lah yang mayoritas hidup dalam kemiskinan. Menurutnya, hanya segelintir warga NU yang kaya. Ia pun menyoal warga NU termasuk pengurus PBNU jika memamerkan kekayaannya namun tidak peduli dengan kemiskinan yang dialami warga nahdliyin ini.“Mirisnya, jika ada orang NU yang pamer kekayaan di hadapan warga NU yang mayoritas hidup dalam kemiskinan,” ungkapnya.

 

Selain itu, Gus Wahyu juga menyoal banyaknya umat Islam yang melaksanakan umroh namun tidak melaksanakan fardhu kifayah terkait kemiskinan. Dijelaskan, umroh sebagai ibadah sunah dan mengentaskan kemiskinan sebagai kewajiban kolektif. Ditegaskan, ketika ada orang Islam mengejar yang sunah dengan meninggalkan yang fardhu, dinilainya ibadah sunahnya tidak hanya tidak diterima namun ibadah sunah tersebut hukumnya justru haram.

 

“Mengejar umroh, dengan cara meninggalkan fardhu kifayah. Kemiskinan tidak dipedulikan. Umrohnya bisa bukan hanya tidak diterima, tapi juga bisa umrohnya itu menjadi haram hukumnya,” terangnya.

 

Hadir dalam acara ini Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH. Misbahul Munir Kholil, pakar ushul fiqih alumnus Al-Azhar Kairo Ust DR Agus DH Lc MA dan Dewan Guru Ashabul Kahfi seperti Kiai Rohmat dari bekasi, Kiai Lukman Nursalim yang juga pengasuh pesantren Yatim-Piatu di Cilodong, Depok, serta ratusan keluarga besar Ashabul Kahfi.(Rel)

 


Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Kualitas Pendidikan di Sumatera Utara Masih Timpang, Akademisi Tawarkan Solusi Strategis

Pendidikan

Peringati HUT ke-29, Pertamina Sumbagut Gelar Nuzulul Qur’an dan Santuni Anak Yatim

Pendidikan

Komitmen ESG, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum

Pendidikan

Guru Hebat, Indonesia Kuat! Peringatan HGN ke-80 di MAS Proyek Univa Medan Penuh Makna dan Kebersamaan

Pendidikan

Polisi Bekuk Pelaku Tunggal Pembunuh Mahasiswa UMA di Patumbak Dijerat Pasal Berlapis dan Berat

Pendidikan

Pemko Gunungsitoli dan Bank Sumut Perkuat Sinergi Pengelolaan Keuangan Daerah