Beritasumut.com-Ray Valdo Lubis menjadi pendulang emas pertama bagi kontingen Medan pada arena Kejuaraan Tinju (Kejurda) antar pelajar se-Sumut memperebutkan Piala Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) HT Erry Nuradi, Mei lalu. Pada partai final pelajar SMK Yapim ini menang angka atas Hari Pratma (Sergai) dalam pertarungan di kelas 52 kg putra kategori junior. Ray Valdo yang berada di sudut Merah tampil dominan dengan mengalahkan lawannya di GOR Dispora Sumut Jalan Willem Iskandar Medan. Torehan emas perdana yang diraih anak kedua dari tiga bersaudara ini membangkitkan petinju Medan lainnya, sehingga Medan unggul dalam pengumpulan medali sebanyak 7 medali emas, sebelumnya sempat tertinggal dari daerah Binjai yang telah mengumpulkan 5 medali emas. Petinju yang dilahirkan 16 tahun lalu ini, mulai menekuni olahraga tinju sejak berumur 13 tahun di Sasana Polonia Boxing Camp Medan. Berkat kemauan yang keras dan disiplin dalam berlatih selama 3 tahun berhasil menorehkan prestasi tingkat regional dan nasional. Prestasi yang telah di raih antara lain mendulang perunggu Kejurnas Antar PPLP di Kupang Nusa Tenggara Timur 2016, mempersembahkan medali emas di Porwil Kota Medan III/2017 untuk kontingen Medan Deli, menyabet medali emas pada Popkot Medan I/2017 dan terakhir menggondol emas Kejurda Tinju Piala Gubsu di Medan 2017. “Tinju merupakan merupakan olahraga prestasi yang mulai ditekuni sejak berumur 13 tahun bergabung di Sasana Polonia Boxing Camp Medan. memang mulanya berlatih tinju hanya sekedar untuk menyegarkan tubuh dan sebagai ilmu bela diri bila berhadapan dengan orang berniat jahat, namun, semakin ditekuni ternyata dapat membuahkan hasil untuk unjuk prestasi,” ujar anak dari Darno Lubis dan Tiur Lina Situmeang saat wawancara santai di kediamannya, Jalan Sari Gang Tower Medan, Senin (29/05/2017). Mantan atlet PPLP Sumut ini menjelaskan dirinya mulai berlaga di atas ring atas dorongan orang tua yang juga mantan petinju Tarutung membuat semakin termotivasi. Setelah diberikan pengarahan dan bimbingan, akhirnya dengan percaya diri mulai berlaga pertama kali tingkat nasional dan mendulang perunggu untuk kontingen Sumut. “Setelah sukses di even pertama terus mendapat genjotan dari pelatih untuk terus melatih diri dengan tehnik pukulan, melindungi serangan lawan, fisik dan teratur menjaga berat tubuh. Fisik merupakan faktor utama yang harus di jaga para petinju. Pasalnya, setiap kali melakukan pukulan kearah lawan, berarti seorang petinju telah mengalami kekurangan daya tahan tubuh. Padahal dalam pertandingan tinju amatir hanya tiga ronde dalam setiap ronde 3 menit, namun tenaga telah terkuras,” ujar petinju yang dilahirkan di Medan ini. Ditambahkan Ray Valdo, sebagai atlet harus mengutamakan taktik, strategi dan pukulan untuk menaklukkan lawan sesuai dengan arahan pelatih saat berlatih. Sesuai dengan motto “satria di atas ring dan di luar ring” harus dibuktikan dan ditunjukkan para petinju untuk membuktikan petinju Medan masih yang terbaik dari daerah lain. Selain itu, petinju Medan merupakan petinju yang disegani lawan. Dalam jiwa semangat juang dan sportivitas harus dijunjung tinggi sebagai insan petinju setiap kali mengahadapi lawan dalam pertandingan. “Prestasi yang diraih belum ada apa-apanya, karena masih banyak even bergengsi yang menanti untuk pembuktian diri di atas ring sebagai yang terbaik dari yag terbaik. Saya akan terus latihan dan berambisi ingin mengulang prestasi yang di kejuaraan yang berikutnya untuk membawa nama harum Kota Medan khususnya, dan Sumut umumnya dalam kancah pertinjuan di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya rendah hati. (BS03)