beritasumut.com - Dalam beberapa kurun waktu belakangan cuaca di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) khususnya Kota Medan terasa sangat panas, namun terkadang dibarengi dengan curah hujan yang cukup tinggi.Hal ini tak terlepas dari berlangsungnya musim pancaroba yang merupakan peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau pun sebaliknya.Proses transisi ini tentunya seringkali membawa perubahan yang signifikan dalam cuaca dan lingkungan sekitar."Akibatnya, ada berbagai dampak yang ditimbulkan dari proses peralihan tersebut, termasuk kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan, kepada wartawan, Jumat (01/03/2024).Menurutnya, musim pancaroba ditandai cuaca yang tidak menentu, termasuk hujan yang tak terduga, suhu udara yang bervariasi, dan perubahan pola angin."Musim pancaroba juga sering dianggap sebagai musim penyebar penyakit. Karena, transisi antara musim hujan dan musim kemarau dalam musim pancaroba sering disertai dengan fluktuasi suhu dan kelembaban udara," jelasnya. Alwi menerangkan, kondisi ini dapat menciptakan lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme seperti bakteri, virus dan jamur untuk berkembang biak dengan cepat antara lain, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)/gangguan pernapasan.Selain itu, juga bisa berdampak kepada penyakit kulit, karena cuaca yang tidak menentu juga dapat memengaruhi kesehatan kulit.[br] "Beberapa penyakit tertentu cenderung meningkat selama musim pancaroba. Misalnya, infeksi virus seperti demam berdarah atau influenza. Kemudian masalah sistem pencernaan, karena perubahan suhu dan kelembaban juga dapat memengaruhi sistem pencernaan manusia," terangnya.Alwi menambahkan, setiap transisi musim memang akan cenderung terjadi peningkatan angka kesakitan. Karenanya dia berharap masyarakat menjaga kebugaran dengan makan makanan bergizi, olahraga sesuai kondisi fisik."Yang terpenting adalah istirahat yang cukup, perbanyak minum air putih, serta mengkonsumsi sayur dan buah," tandasnya.(BS04)