Suami Dituntut Berperan Cegah Stunting

Herman - Sabtu, 23 April 2022 14:00 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir042022/_6808_-Suami-Dituntut-Berperan-Cegah-Stunting.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist

beritasumut.com -Pada tahun 2024 mendatang, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) harus mampu mengejar target 14 persen untuk persentase angka stunting. Hal ini tentunya berat, mengingat angka stunting Sumut saat ini masih diangka 25,8 persen.Untuk itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumut Muhammad Irzal mengaku pihaknya telah menyiapkan arah kebijakan dan strategi Bangga Kencana 2022 untuk menekan angka stunting. Di antaranya seperti pendampingan calon pengantin, ibu hamil, hingga pasca persalinan dan lainnya."Masalah stunting ini perlu ditanggulangi supaya masyarakat dan keluarga sebagai generasi penerus, berkualitas, sehat, mandiri dam maju. Itu lah ciri-ciri keluarga berkualitas," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (21/04/2022) malam.Lebih lanjut, Irzal menjelaskan, salah satu pihak yang dianggap paling penting dalam mencegah stunting adalah suami. Sebab stunting sangat erat hubungannya dengan 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak wanita hamil, melahirkan hingga bayi usia dua tahun."Makanya BKKBN saat ini rutin mengedukasi para bapak-bapak untuk berperan mencegah stunting, jadi bukan lagi hanya ibu-ibu saja. Ini lah perlunya kita memberi pemahaman akan pentingnya peran suami," jelasnya.Irzal menuturkan, secara definisi stunting adalah gagalnya tumbuh kembang balita akibat gizi kronis. Untuk itu, terang dia, sejak bayi dalam kandungan, anak harus mendapatkan asupan yang baik dan ASI yang cukup ketika telah lahir."Di sinilah peran suami itu, agar harus selalu siaga menjamin kebutuhan gizi anaknya," terangnya.Bila seorang anak terkena stunting, sambung Irzal, selain tubuhnya yang pendek, secara intelektual juga punya kecerdasan yang rendah. Tentunya, kata dia, hal ini dikhawatirkan anak-anak yang menderita stunting sulit untuk bersaing dengan teman-teman sebayanya.[br] Untuk itu, ujar Irzal, dalam menurunkan angka stunting harus banyak melibatkan banyak sektor. Tak terkecuali, juga melakukan pendampingan terhadap para remaja. "Karena remaja adalah hulunya. Makanya remaja perlu didampingi termasuk memantau kondisi kesehatannya sampai ia siap menikah dan hamil nanti," terangnya.BKKBN tambah dia, saat ini juga sudah menyediakan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil) untuk memantaunya. Di aplikasi tersebut juga terdapat quesioner serta berbagai fitur lain untuk mendukungnya."Tetapi stunting itu tidak hanya berbicara gizi buruk, sanitasi dan pendidikan saja. Tetapi juga alat kontrasepsi maupun kawin usia muda. Untuk itu marilah kita juga menggerakkan untuk menggunakan alat kontrasepsi, berikan lah jarak bagi anak, agar keluarga dapat terencana dan sehat," pungkasnya.(BS04)

Editor
: Herman

Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Pertamina Sumbagut Gandeng BKKBN Dukung Pembangunan Keluarga dan Kesejahteraan Pekerja

Kesehatan

Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Sukses Gelar PKM, Guru SD di Medan Kini Lebih Kompeten Cegah Stunting

Kesehatan

Cegah Stunting, Pemko Binjai bersama Asuransi MAG Gelar Pemberian Makanan Tambahan

Kesehatan

Pertamina Ikut Turun Tekan Angka Stunting

Kesehatan

Kolaborasi PT Hutama Karya dan Pemkab Langkat: Kick-Off Program Penanganan Kemiskinan Ekstrem dan Stunting

Kesehatan

Sekda Sibolga Resmi Membuka Diseminasi Audit Kasus Stunting Tahun 2024