Dinkes Kota Medan Akui Selama Pandemi Penderita TBC Terinfeksi Covid-19 Nihil

- Senin, 22 November 2021 20:00 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir112021/_5162_Dinkes-Kota-Medan-Akui-Selama-Pandemi-Penderita-TBC-Terinfeksi-Covid-19-Nihil.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Paru-paru by Pixabay

Beritasumut.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan mengaku, bahwasanya selama pandemi Covid-19 berlangsung tidak ada ditemukannya (nihil) penderita tuberkulosis (TBC) yang terinfeksi virus corona. Padahal, sebagaimana diketahui, menurut laporan badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2021, Indonesia merupakan negara ketiga dengan beban tuberkulosis (TBC/TB) tertinggi setelah India dan Cina dengan estimasi kasus 824.000 selama tahun 2020, dengan kasus yang ditemukan sebesar 393,323 dengan penanganan pengobatan hanya sebesar 48 persen.

Kepala Seksi P3M Dinas Kesehatan Medan, Edy Yusuf menjelaskan hingga hari ini (Minggu 21/11/2021 -red) tidak ditemukannya penderita TBC yang tertular Covid-19, karena minat mereka menurun untuk berobat ke rumah sakit. "Kalau dari data kita enggak ada, belum ada ditemukan (penderita TBC terinfeksi Covid-19). Sebab, memang di masa pandemi ini minat masyarakat memeriksakan diri ke rumah sakit menurun," katanya kepada wartawan.

Menurunnya minat penderita TBC berobat ke rumah sakit, menurut Edy, karena stigma yang tinggi terkait penyakit Covid-19. "Sehingga, mereka (penderita TBC) sepertinya sudah mencari alternatif lain untuk pengobatan penyakitnya," jelasnya.

Baca Juga : Butuh Dukungan Semua Pihak Guna Percepat Eliminasi Penyakit TBC-RO

Lebih lanjut Edy mengatakan, selama pandemi ini kasus penderita TBC-RO (TBC Resistan Obat) yang ditemukan juga memang menurun. Di mana seharusnya estimasi TBC-RO di Kota Medan itu sekitar 500 kasus, namun pada tahun ini baru ada sekitar 86 kasus. "Dari jumlah penderita TBC-RO tersebut, baru sekitar 70 persen lebih yang melakukan pengobatan. Kita (memang) melakukan investigasi untuk mengajak dan mengedukasi para pasien TBC-RO agar mau memulai lagi pengobatan terhadap penyakitnya. Akan tetapi, memang ada pasien yang tidak berobat lagi karena sudah pindah domisili hingga loss contact," bebernya.

[br] Oleh karena itu, sambung Edy, pihaknya menggandeng lembaga swasta hingga kader TBC bahkan kader PKK dilibatkan untuk mengajak pasien TBC-RO agar melanjutkan pengobatan. Pasalnya, ada beberapa kasus pasien TBC dengan kondisi telah membaik setelah berobat. Namun, ketika kondisinya membaik ternyata mereka berhenti mengonsumsi obat.

"Pasien TBC-RO itu, misalnya pasien dengan kasus TBC biasa tetapi setelah dua bulan konsumsi obat lalu berhenti karena sudah merasa sembuh. Namun, ketika berobat kembali ternyata masih belum sembuh dan bahkan butuh penanganan intens. Atau, memang pasien itu sudah tertular dari penderita TBC-RO lalu menularkan kepada orang lain," terangnya.

Dia menambahkan, masa pengobatan penderita TBC-RO cukup lama, minimal sembilan bulan hingga dua tahun dengan diikuti injeksi. Artinya, memang pasien TBC-RO cukup menderita, sehingga perlu pendampingan dari organisasi swasta terkait dan pemerintah daerah. "Untuk mengobati pasien TBC-RO sampai sembuh membutuhkan biaya pengobatan sekitar Rp200 jutaan. Oleh sebab itu, pemerintah mengambil peran dimana obat pasien TBC-RO masih disuplai dari Kementerian Kesehatan ke Dinas Kesehatan daerah dan selanjutnya didistribusikan kepada pasien," pungkasnya.

Baca Juga : Kemenkes Punya Jurus Jitu, Turunkan Kasus Baru TBC Hingga 65 per 100 Ribu Penduduk

Terpisah, berdasarkan data Kemenkes, Senin (22/11/2021), Provinsi Sumatera Utara (Sumut) disebutkan menambah satu kasus konfirmasi positif Covid-19 baru, sehingga totalnya naik menjadi 105.987 orang. Sedangkan untuk kasus sembuh, bertambah 15 kasus, menjadi 102.989 orang. Lalu untuk kasus kematian, jumlahnya tidak berubah yakni tetap di angka 2.889 orang. Oleh karena itu, melalui data tersebut maka saat ini kasus aktif Covid-19 di Sumut turun menjadi 109 orang. (BS06)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Ketika Masyarakat Kota Medan Nikmati Manfaat Program UHC JKMB

Kesehatan

Sekdaprov Sumut Lantik Faisal Hasrimi sebagai Kadis Kesehatan

Kesehatan

Musim Pancaroba, Dinas Kesehatan Imbau Perbanyak Minum Air Putih

Kesehatan

Kembali Jabat Kadis Kesehatan Sumut, Alwi Mujahit Hasibuan Siap Lanjutkan Program

Kesehatan

Kecamatan Medan Helvetia dan Dinas Kesehatan Gelar Skrining Massal TBC

Kesehatan

Perilaku BAB Sembarangan Masih Tinggi