Reaktivasi Bisa Terjadi, Masyarakat Diminta Pahami Fase dan Alur Covid-19 Bekerja

Herman - Senin, 27 April 2020 14:00 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir042020/_9335_Reaktivasi-Bisa-Terjadi--Masyarakat-Diminta-Pahami-Fase-dan-Alur-Covid-19-Bekerja-.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/BS03

Beritasumut.com-Hingga saat ini, istilah reaktivasi atau reinfeksi memang masih dalam perdebatan. Namun, kemungkinan besar hal ini bisa terjadi lantaran paparan Covid-19 masih sangat tinggi. Untuk itu masyarakat diminta paham dengan fase dan alur Covid-19 bekerja.“Sehingga dalam menyikapi Covid-19, kita bisa bersikap dan merespon secara rasional, tidak panik akibat informasi yang tidak jelas,” ujar Juru bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut Aris Yudhariansyah, di Media Centre Kantor Gubernur Jalan Pangeran Diponegoro 30 Medan, Minggu (26/04/2020).Pada umumnya, jelas Aris, rata-rata virus bertahan sampai hari ke-20. Meskipun setelah anti bodi timbul dan matang, maka sejak hari ke-10 jumlah virus akan menurun drastis. Kemudian, hari ke-14 jumlah virus tinggal sedikit dan benar-benar bersih pada hari ke-20.“Namun, ada kasus ekstrem dimana virus bertahan sampai 28 hingga 37 hari setelah kontak. Bila mau aman, gunakan prinsip 2 kali 20 hari atau enam pekan. Untuk itu lah, kenapa isolasi sangat penting. Memastikan virus benar-benar sudah hilang dan tidak menularkan ke orang lain,” tuturnya.Masalah lain yang saat ini banyak terjadi, kata Aris, ialah munculnya kepanikan berlebihan karena hasil rapid test positif. Padahal, untuk menentukan positif atau negatifnya seseorang memerlukan alur dan rangkaian pemeriksaan sistematis oleh dokter.“Penentuan positif Covid-19 tidak sembarangan. Diagnosis adalah ranah dokter. Rapid test untuk Covid-19 sebenarnya tepat dan bermakna, syaratnya tepat waktu penggunaannya. Di masa awal infeksi tidak tepat, paling cepat minimal 7 hari atau 10 hari setelah kontak atau perjalanan. Lebih tepat lagi kalau ada gejala,” paparnya.Berikutnya, diinformasikan pula data terbaru terkait orang yang terpapar Covid-19 di Sumut per tanggal 26 April 2020 pukul 17.00 WIB. Ada sebanyak 150 PDP, pasien positif dengan metode PCR 111 orang, pasien positif dengan metode rapid test 18 orang, sembuh 33 orang dan meninggal sebanyak 12 orang.Selain waspada dengan Covid-19, masyarakat Sumut juga diingatkan untuk waspada pada penyakit lain, khususnya malaria. Hal ini karena malaria juga merupakan salah satu penyakit yang memiliki beberapa gejala yang mirip dengan Covid-19. Contohnya, demam, sakit kepala dan nyeri otot.“Untuk menjaga agar tidak terjadi peningkatan kasus malaria pada saat pandemi Covid-19, selalu mengacu pada protokol pencegahan Covid-19. Selain itu, penyakit malaria akan semakin memperberat kondisi seseorang yang juga terinfeksi Covid-19,” terangnya.(BS03)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Pemerintah Utamakan Penggunaan Vaksin COVID-19 Produksi Dalam Negeri

Kesehatan

Kasus Aktif Covid-19 Sumut 723 Orang, Vaksinasi Booster Tahap Kedua Capai 35,13 Persen

Kesehatan

Dinkes Sumut Terus Edukasi Masyarakat Cegah Peningkatan Covid-19

Kesehatan

1.452 Warga Sumut Dinyatakan Sembuh Covid-19 Sumut

Kesehatan

Jangan Sepele, Satgas Covid-19 Sumut Tegaskan Omicron Juga Berbahaya

Kesehatan

Kapolri Paparkan Tiga Strategi Antisipasi Lonjakan Covid-19