Transisi Pola Hidup Sebabkan Peningkatan Kasus Penyakit Jantung

- Minggu, 29 September 2019 07:15 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir092019/9196_Transisi-Pola-Hidup-Sebabkan-Peningkatan-Kasus-Penyakit-Jantung.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Beritasumut.com-Berdasarkan data Sample Registration System (SRS) 2014, penyakit jantung menduduki peringkat kedua tertinggi setelah stroke untuk tingkat kematian terbanyak. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dr Cut Putri Arianie MHKes mengatakan berdasarkan Riskesdas 2013, penyakit jantung 0,5% dari jumlah penuduk Indonesia, sedangkan berdasarkan Riskesdas 2018 menjadi 1,5%.

 

Menurutnya hal tersebut dilatarbelakangi oleh banyak perubahan transisi di masyarakat sehingga mendorong perubahan jumlah penderita sakit jantung. Transisi tersebut berupa perubahan tren penyakit menular menjadi tidak menular, transisi usia harapan hidup manusia yang semakin panjang.Transisi usia harapan hidup semakin panjang berpotensi terkena penyakit tidak menular lainnya semakin tinggi," ungkap dr Cut Putri dilansir dari laman depkes, Minggu (29/09/2019).

 

dr Cut Putri menjelaskan, transisi teknologi juga memicu bertambahnya jumlah penderita sakit jantung. Misalnya keberadaan transportasi online yang menyediakan layanan pemesanan makanan. Transisi ini berpengaruh pada peningkatan jumlah penderita sakit jantung. Hal ini juga dipengaruhi oleh perilaku dan gaya hidup seseorang.

 

Untuk menangani masalah penyakit jantung ini pemerintah lebih menekankan pada pencegahan. Karena sebagian besar penyakit tidak menular sebenarnya dapat dicegah dengan pola hidup sehat.Yang paling mungkin, penyakit jantung ini bisa dicegah ketika itu ada di faktor risiko dengan mengubah perilaku. Faktor risiko berupa merokok, kurang aktivitas fisik, tidak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, garam, lemak berlebihan, kemudian ada juga faktor genetik untuk penyakit jantung ini," jelasnya.

 

Tapi, tambah dr. Cut, yang paling mungkin dicegah adalah ketika seseorang merupakan faktor-faktor risiko tadi."Kalau orang merokok berhentilah merokok, yang malas bergerak aktivitas fisiklah minimal 30 menit perhati, dan mengendalikan asupan gula, garam, lemak, jangan berlebihan," ungkap dr Cut Putri.

 

Untuk mengurangi jumlah perokok, Kemenkes telah menerapkan aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Pemerintah daerah didorong untuk menerapkan aturan tersebut secara optimal di 7 tatanan, antara lain KTR di fasilitas layanan kesehatan, tempat kerja, tempat belajar-mengajar, tempat bermain anak, fasilitas umum, angkutan umum, dan tempat ibadah.

 

Selain itu, dr Cut Putri mengingatkan masyarakat untuk menerpakan Germas yang di antaranya aktivitas fisik, makan buah dan sayur, cek kesehatan secara berkala, dan diet seimbang."Diet seimbang artinya jangan berlebihan mengonsumsi gula dan garam, dan mau deteksi dini. Berdasarkan penelitian, 7 dari 10 orang Indonesia tidak tahu bahwa dia membawa faktor risiko penyakit tidak menular di dirinya. Semakin cepat dideteksi dini, semakin cepat mereka mendapat informasi tentang pencegahan dan mau menerapkan di kehidupan sehari-hari, maka semakin akan terhindar dia dari faktor risiko dari penyakit jantung," pungkasnya.(BS09)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Transplantasi Solusi Terbaik Penyakit Ginjal Kronis

Kesehatan

Tindak Lanjut Dumas, Unit Reskrim Polsek Medan Tuntungan Amankan 1 Unit Mesin Judi Tembak Ikan

Kesehatan

Bakamla RI Tangkap Kapal Kayu Bermuatan Rokok Ilegal 200 Ball di Perairan Tembilahan

Kesehatan

Terdeteksi 36 Kasus Kusta di Kota Medan, Dinkes Upayakan Kejar Eliminasi Tahun 2030

Kesehatan

Pertama di RS Adam Malik, Operasi Koarktasio Aorta pada Kasus Jantung Anak Bawaan

Kesehatan

Dinkes Medan Evaluasi Pelaksanaan Deteksi Dini terhadap Penyakit Tidak Menular