Kampanye Imunisasi Campak-Rubella Berakhir, Pelayanan Tetap Berjalan

- Minggu, 13 Januari 2019 17:15 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir012019/821_Kampanye-Imunisasi-Campak-Rubella-Berakhir--Pelayanan-Tetap-Berjalan.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST

Beritasumut.com-Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr Anung Sugihantono MKes mengatakan kampanye imunisasi campak-rubella dihentikan, tapi pelayanan imunisasinya tetap dilanjutkan. Keputusan tersebut berdasarkan rekomendasi sejumlah organisasi kedokteran seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI).

 

"Statement kampanye campak dan rubella atas saran IDAI, Komnas KIPI, kita hentikan. Tapi layanan imunisasi untuk campak dan rubella tetap dilanjutkan sebagai bagian dari pelayanan," ucap dr. Anung dilansir dari laman depkes.go.id, Minggu (13/01/2019).

 

Esensi dari rekomendasi tersebut adalah masuknya imunisasi campak-rubella ke kegiatan imunisasi rutin lengkap.Terkait belum tercapainya target imunisasi di luar Jawa, Anung menegaskan perlu menguatkan surveilans penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Hasil cakupan di Jawa tampak menunjukkan kasus camapak rubella menurun jauh setelah mencapai 100 persen pada 2017.

 

"Tapi untuk meningkatkan cakupan yang di luar Jawa, surveilans PD3I harus ditingkatkan. Kami sekarang melakukan pemetaan risiko wilayah atau potensi wilayah yang perlu diwaspadai terjadinya PD3I. Variabelnya secara makro mencakup target imunisasi, kegiatan laporan surveilans, dan pelaporan surveilans pasif di RS," terang dr Anung.

 

Lebih lanjut, dr Anung menjelaskan pelaporan pasif di RS bukan hanya soal cakupan, tapi soal Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) di rumah sakit. Hal ini harus dicermati karena congenital rubella syndrome misalnya, perlu perhatian dari beberapa dokter spesialis, yakni spesialis mata, THT, dan spesialis jantung untuk memastikan diagnosis bahwa seorang anak terkena congenital rubella syndrome.

 

"Karena belum semua RS di tingkat kabupaten/kota mempunyai 3 spesialis ini, inilah yang jadi tantangan kami ke depan dalam mengamati atau meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan karena anak tidak diimunisasi," jelasnya.

 

Dalam 6 bulan ke depan, dr Anung mengharapkan akan ada data yang dapat diolah dari berbagai hal yang berkaitan dengan imunisasi, surveilans, dan risiko di lapangan saat dilakukan kampanye campak-rubella selama 2 tahun terkahir."Harapannya di akhir 2019 semua jenis cakupan imunisasi di atas 95 persen perkabupaten/kota di Indonesia," pungkas dr Anung.(BS09)

 

 


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Imunisasi Nasional Rotavirus, Sumut Targetkan 111.331 Bayi

Kesehatan

Imunisasi Polio Putaran II Kembali Digelar Mulai 15 Mei 2023

Kesehatan

Melihat Strategi dan Komitmen Bobby Nasution, Capaian Imunisasi Polio Lebihi Target

Kesehatan

Capaian Sub PIN di 21 Puskesmas di Medan Capai Target 95 Persen

Kesehatan

Capaian Imunisasi Polio Sumut Masih 70,1 Persen

Kesehatan

Capai Target Imunisasi Polio, Walikota Medan: Dinas Kesehatan dan Kecamatan Harus Berkolaborasi