Imunisasi Masih Rendah, Provinsi Sumut Terancam KLB Measles Rubella

- Sabtu, 15 September 2018 20:30 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir092018/4640_Imunisasi-Masih-Rendah--Provinsi-Sumut-Terancam-KLB-Measles-Rubella-.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/BS09
Beritasumut.com-Imunisasi Measles Rubella (MR) di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) hingga 46 hari sejak dicanangkan masih belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Kepala Seksi (Kasi) Surveilans Imunisasi Dinas Kesehatan Sumut, Suhadi menyebutkan, berdasarkan data yang terhimpun hingga Sabtu (15/09/2019), kampanye MR baru mencapai 33,6% atau minus 61,4%. 

 

Padahal, lanjutnya, ditargetkan cakupan imunisasi MR dapat diberikan minimal 95% dari sasaran vaksin 4.291.857 anak hingga akhir bulan September ini. Dengan kondisi ini, Provinsi Sumut dikhawatirkan memiliki resiko Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit campak rubella.

 

"Sampai saat ini cakupan rendah, terutama di wilayah dengan mayoritas Muslim seperti Madina (Mandailing Natal). Padahal, imunisasi ini tidak akan bermanfaat kalau cakupannya rendah dan tidak merata," ungkapnya dalam Diskusi Publik Campak Rubella bersama Jurnalis dan Pemangku Kepentingan Provinsi Sumut di Aula Rapat II Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan.

 

Dalam kegiatan yang digelar Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes) yang bekerjasama dengan UNICEF serta Dinas Kesehatan Sumut ini, Suhadi menuturkan, kampanye MR penting dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit yang disebut juga campak jerman ini. Dengan pemberian vaksin kepada semua anak usia 9 bulan hingga 15 tahun, ungkap dia, diharap timbul kekebalan tubuh sehingga penyakit tidak menjadi wabah.

 

"Karena itu, saya mohon kepada teman jurnalis agar bisa mengungkap cakupan kampanye MR per Kabupaten/kota. Sehingga kepala daerah malu dan bisa mendesak agar program pencegahan penyakit dari pemerintah ini bisa mencapai target," pintanya.

 

Sementara itu, Ketua Komda Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (PP-KIPI) Sumut, Prof Dr H Munar Lubis SpA (K) mengungkapkan, bahwa imunisasi dilakukan untuk mengunci atau menjadi antibodi agar tidak timbul penyakit. Namun jelas dia, meski sudah diimunisasi, anak masih bisa tertular, tapi resikonya jauh lebih ringan."Sedangkan yang belum diimunisasi, sakitnya akan lebih berat, lebih lama dan lebih berbahaya," jelas Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumut ini.

 

Lebih lanjut Munar mengatakan, jika menulari anak, campak Jerman ini hanya menimbulkan gejala ringan. Namun, jika diidap wanita hamil maka cukup berbahaya karena dapat menimbulkan abortus atau bayi lahir dengan CRS atau sindrome kecacatan pada bayi.

 

"Jadi anak kita diimunisasi untuk melindungi cucu kita nantinya. Untuk itu, program kampanye MR ini harus mencapai cakupan target 95% agar berhasil dan dapat mengeliminasi virus," pungkasnya. (BS09)

 


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Pertamina Sumbagut Gandeng BKKBN Dukung Pembangunan Keluarga dan Kesejahteraan Pekerja

Kesehatan

Ramadan dan Idulfitri 2026, Pertamina Sumbagut-Ombudsman Sumut Pastikan Kesiapan Stok dan Layanan Energi

Kesehatan

Peringati HUT ke-29, Pertamina Sumbagut Gelar Nuzulul Qur’an dan Santuni Anak Yatim

Kesehatan

Sambut Ramadan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Salurkan Santunan bagi Anak Yatim

Kesehatan

Resmikan Desa Siaga Bencana, PLN UID Sumut Serah Terima Bantuan Program

Kesehatan

Bank Sumut Rayakan Natal: Semangat Kasih Perkuat Empati Sosial, Etos Kerja, dan Persaudaraan