Metode Pengobatan Sudah Seharusnya Berkembang dari Waktu ke Waktu

Herman - Jumat, 06 April 2018 13:48 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir042018/2195_Metode-Pengobatan-Sudah-Seharusnya-Berkembang-dari-Waktu-ke-Waktu.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Metode cuci otak dengan Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dilakukan dokter Terawan dalam pengobatan stroke, menarik perhatian anggota komisi IX DPR yang juga berprofesi sebagai dokter, Adang Sudrajat. 

 

Dokter Adang Sudrajat menilai Metode dari dokter Terawan, bisa dianggap terlalu jauh dalam konteks Radiologi intervensi, karena melakukan tindakan therapy yang selama ini tidak ada dalam wewenang profesi Radiolog. Namun, menurut legislator FPKS ini, ada pengecualian untuk tindakan radiotherapy,  sangat perlu dilakukan dengan adanya rujukan dari ahli oncologi baik penyakit dalam maupun bedah. Sedangkan dokter Terawan melakukan tindakan therapeutik tanpa adanya rujukan dari Neurolog ataupun Neurosurgeon.

 

Legislator daerah pemilihan Kabupaten Bandung dan Bandung Barat ini menjelaskan, bahwa pertanggungjawaban keabsahan metodologi dokter Terawan bisa di uji dengan Evidence Base Clinical Trial. Selama hasilnya bisa dipertanggungjawabkan, secara cost and benefit, maka komunitas kesehatan harus bisa menerimanya sebagai sebuah metode pengobatan yang memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

 

“Tidak ada satupun metode pengobatan yang sempurna, artinya paling efektif menyembuhkan tapi tanpa resiko sama sekali. Setiap metode diukur dengan potensi manfaat dengan potensi resiko yang mungkin terjadi,” ucap dokter Adang.

 

Dengan demikian, lanjut Adang,  mungkin perlu dibuka kembali suasana dialogis yang dapat menghasilkan suasana keterbukaan satu sama lain. Dengan lebih membuka diri pada sesuatu hal yang baru, yang rujukan tex book-nya belum di dapatkan. Apabila memang sebuah metode memiliki manfaat yang besar dengan resiko yang jauh lebih kecil  dengan Clinical Trial yang dapat dipertanggungjawabkan kenapa tidak dapat menerimanya.

 

“Pemerintah mulai saat ini semestinya memberikan fasilatas anak-anak bangsa yang berpotensi besar membesarkan bangsa. Seandainya Clinical Trial ini memakan biaya tinggi, sudah seharusnya pemerintah mengalokasikan anggaran, agar hasil karya anak bangsa terus berkembang. Bukan hal yang mustahil Indonesia akan menjadi salah satu negara pelopor dalam pengembangan metode pengobatan baru. Bukan hanya sebagai pengekor seperti selama ini,” pungkas dokter Adang Sudrajat.(rel)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Dinkes Medan Targetkan Obati 18.000 Penderita TB

Kesehatan

Sumut Lampaui Target Pengobatan TBC

Kesehatan

Sosialisasi Kanker di Nias, Nawal Lubis : Jangan Takut Periksa dan Berobat, Kami Akan Bantu

Kesehatan

Pemko Medan Apresiasi Hadirnya RAS Smiling Kids

Kesehatan

Ada 14 Kasus Gangguan Ginjal Akut di Sumut, Gubernur Edy Rahmayadi Gelar Rakor Siapkan RS dan Gratiskan Pengobatan

Kesehatan

Satgas Pamtas Yonif 126/KC Berikan Pengobatan Keliling Kampung