Beritasumut.com-Keberlangsungan bisnis Rumah Sakit (RS) di Kota Medan, saat ini telah semakin menggeliat. Tidak hanya di inti perkotaan, melainkan pertumbuhannya kini juga telah merambah hingga ke kawasan pinggiran. Sebut saja seperti, RS Mitra Medika di Tembung, RS Hermina di Jalan Asrama, maupun RS Eshmun di Marelan Raya. Keberadaan masing-masing RS tersebut tentu saja semakin meramaikan bisnis pelayanan kesehatan lanjutan yang ada di Kota Medan. Pengamat Kesehatan Sumatera Utara (Sumut) Destanul Aulia menilai, ada beberapa faktor yang mendorong bermunculannya RS dikawasan pinggiran Kota. Penyebab utama, kata dia, adalah dengan keberadaan Universal Health Coverage (UHC) pada tahun 2019 yang mewajibkan semua penduduk untuk terdaftar sebagai peserta BPJS. "Sehingga fenomena ini akan meningkatkan permintaan terhadap pelayanan kesehatan, karena semua jenis pelayanan telah di tanggung oleh BPJS. Jadi meski sakit sedikit masyarakat akan berobat. Dan ini menjadi peluang bagi tumbuhnya industri RS terutama pada daerah yang aksesnya selama ini tidak merata seperti di Medan," ujarnya, Minggu (04/03/2018). Selain itu, Destanul juga menjelaskan, adanya kepastian dari BPJS untuk membayarkan klaim masyarakat yang berobat. Tentunya hal ini pula menyebabkan adanya kepastian bagi RS dalam memperoleh pembiayaan perawatan. "Artinya BPJS adalah pelanggan tetap yang akan membiayai operasional RS. Jadi RS tidak akan ragu-ragu dalam memulai bisnisnya," jelasnya. Begitupun lanjut Destanul, dengan membuka RS baru sebagai cabang atau rujukan, akan dapat menguntungkan. Apalagi bila hal itu dilakukan oleh RS yang kepemilikannya sama dan mempunyai jenjang rujukan, sehingga peluang untuk membangun rumah sakit di pinggiran memang sangat potensial. "Pembangunan kawasan pinggiran juga kini lebih cepat di banding perkotaan. Sedangkan ketersediaan lahan semakin sedikit di perkotaan, yang menyebabkan masyarakat kota berpindah ke pinggiran, namun akses kesehatan seperti RS masih terbatas di pinggiran kota," terangnya. Destanul menambahkan, dari sisi distribusi sumberdaya juga akan lebih menguntungkan, apalagi bila RS mempunyai bisnis dari hulu ke hilir, seperti mempunyai institusi pendidikan (bidan, perawat dan dokter). Melaluinya, sumberdaya yang dilahirkan dapat berpraktek dan bekerja pada lingkungannya sendiri, belum lagi alat kesehatan yang penggunannya dapat di kongsi bersama, jadi akan lebih efektif dan efisien. "Artinya bisnis RS kini telah semakin menguntungkan dan menggairahkan," pungkasnya. Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Sumut dr Tuahman Purba mengatakan, munculnya RS dikawasan pinggiran akan sangat membantu pemerintah. Hal ini sebut dia, terutama berfungsi untuk menekan angka kematian di masyarakat. "Banyak yang kita lihat, daerah-daerah yang masih minim pusat pelayanan kesehatannya. Sehingga dengan pembangunan RS di pinggiran merupakan peran swasta untuk membantu pemerintah," ujarnya. Sedangkan dari segi bisnis, Tuahman mengaku, munculnya RS tersebut memang akan menciptakan persaingan. Namun, selama persaingan itu dilakukan secara positif hal itu menurut dia, tentu bukan menjadi suatu permasalahan. "Kalau bisnis itu kan rezeki masing-masing. Siapa yang bekerja serius dia yang akan memiliki nilai lebih. Tapi intinya, adanya pertumbuhan RS itu untuk membantu pemerintah. Artinya kita bersaing postitif lah," pungkasnya.(BS06)