LAPK: Produk Obat Bermasalah Picu Traumatik Konsumen

Herman - Minggu, 18 Februari 2018 20:01 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir022018/1705_LAPK--Produk-Obat-Bermasalah-Picu-Traumatik-Konsumen.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Setelah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan Viostin DS dan Enzyplex sebagai produk obat bermasalah karena mengandung DNA babi. Selanjutnya BPOM kini juga membekukan izin obat sariawan merk Albothyl sebab mengandung policresulen konsentrat, yang dapat membahayakan penggunanya.

 

Karenanya Sekretaris Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) Sumatera Utara (Sumut) Padian Adi Siregar menyatakan, hal ini tentunya dapat menimbulkan sisi traumatik bagi konsumen Indonesia. Apalagi penemuan produk bermasalah tersebut justru berulang hanya dalam waktu yang relatif singkat.

 

"Jangan-jangan konsumen akhirnya menjadi tidak berani karena menimbulkan sisi traumatik. Sehingga mereka cenderung akan berpikir jika ada obat lain yang juga bermasalah atau mengandung zat-zat berbahaya, karena tidak diawasi selama ini," ujarnya, Minggu (18/02/2018).

 

Untuk itu, jelas Padian, harus ada penjelasan lebih lanjut yang dikeluarkan oleh BPOM maupun lembaga terkait lainnya terutama menyangkut soal Albothyl itu. Selain itu ia juga berharap, agar adanya tindak lanjut dari tanda warning yang sudah dikeluarkan pemerintah.

 

Sebab, lanjut Padian, dalam beberapa persolanan BPOM justru terkesan membiarakan suatu persoalan, informasinya tidak utuh. Misalnya Viostin DS, yang mengandung DNA babi bukan berada pada obatnya melainkan pada pembungkusnya.

 

"Sehingga selama ini seolah-olah pemerintah tidak serius dalam verifikasi dan pengawasn yang dilakukan terhadap obat-obatan. Untuk itu jangan sampai konsumen dibiarkan dengan informasi yang tidak utuh," jelasnya.

 

Begitupun tambah Padian, selain konsumen, informasi yang utuh tentu juga sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha. Karena menurut dia, bisa jadi melalui informasi yang kurang jelas disampaikan tersebut, pelaku usaha yang bakal menjadi korban.

 

"Saya kira walaupun konsumen harus dijaga, jangan sampai rugi keamanan dan keamanannya. Di sisi lain juga harus memberikan proteksi bagi pelaku usaha. Apalagi bila kesalahannya tidak berlangsung secara spesifik, melainkan sesungguhnya pada konteks pemberian informasi yang kurang jelas," pungkasnya.(BS04)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Albothyl Dilarang Beredar, Namun Produk Masih Tersedia di Apotek

Kesehatan

BBPOM Minta Distributor Tarik Peredaran Albothyl

Kesehatan

Terkait Obat Mengandung DNA Babi, Sanksi Administratif Tidak Cukup

Kesehatan

Terkait Viostin DS dan Enzyplex, BBPOM: Awalnya Tak Ada Kandungan DNA Babi

Kesehatan

LAPK : Konsumen Viostin DS dan Enzyplex Harus Diberi Kompensasi

Kesehatan

Soal Viostin DS dan Enzyplex Mengandung DNA Babi, LAPK Kritik Kinerja BBPOM dan Kemenkes