Beritasumut.com-Dokter spesialis penyakit jiwa, Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) mengungkapkan jika edukasi terhadap masalah gangguan jiwa kepada masyarakat masih sangat minim diberikan. Sehingga tidak jarang, terutama di pedalaman penderita gangguan jiwa lazim dipasung oleh keluarganya. "Edukasi tentang gangguan jiwa masih sangat kurang di masyarakat. Minim sekali. Padahal peranan keluarga pada penderita gangguan jiwa merupakan hal mutlak dan sangat penting," ungkapnya kepada wartawan, Rabu (14/02/2018). Elmeida mengatakan, pada masyarakat dengan tingkat pendidikan dan pengetahun yang kurang, gangguan jiwa dianggap hal memalukan dan sering dikaitkan dengan penyakit gaib, akibat 'guna-guna' ataupun kurang iman. Apalagi untuk gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, depresi dengan ciri psikotik dan bipolar dengan ciri psikotik. "Mereka masih sering dicap sebagai orang yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, sehingga pengobatannya sering tidak tepat dan terlambat," jelasnya. Menurutnya, keluarga juga sering merasa malu jika ada anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa. Bahkan juga menyembunyikan , mengurung di kamar, atau membawa berobat ke dukun karena menyangka terkena 'guna-guna'. Padahal, keluarga seharusnya paling dulu sadar melihat perubahan perilaku pada anggotanya yang mengalami gangguan jiwa."Jadi, keluarga pulalah orang pertama yang seharusnya membawa pasien pada pengobatan yang tepat," tegasnya. Sebab, pada orang yang mengalami gangguan jiwa berat, sambung Elmeida, mereka tidak paham bahwa sedang mengalami gangguan. Untuk itulah perlu pengobatan agar mereka paham terhadap apa yang terjadi pada diri mereka. Walaupun mereka mengalami gangguan jiwa, kesehatan fisik dan reproduksi biasanya tidak terganggu. "Sehingga bagi perempuan yang mengalami gangguan jiwa tetap bisa hamil dan memiliki anak. Walau biasanya mereka mengalami gangguan dalam perawatan diri," pungkasnya.(BS06)