Penggunaan Antibiotik Penting, Tapi Harus Perlu Dikontrol

- Senin, 12 Februari 2018 22:45 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir022018/5668_Penggunaan-Antibiotik-Penting--Tapi-Harus-Perlu-Dikontrol-.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Beritasumut.com-Selama ini antibiotik memiliki posisi yang sangat penting dalam dunia kesehatan. Antibiotik dinilai sangat manjur dalam menyembuhkan berbagai kasus infeksi.Sayangnya, belakangan ini penggunaan antibiotik yang relatif tinggi justru menimbulkan permasalahan, terutama resistensi bakteri. 

 

Karena alasan itu, banyak pihak yang kini mulai mengevaluasi penggunaannya, bahkan pernah ada wacana agar antibiotik tidak lagi boleh dijual secara bebas.

 

Ketua Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Sumatera Utara (Sumut) Amin Wijaya mengatakan, di negara tropis seperti Indonesia, kuman dan bakteri jumlahnya cukup banyak. Karenanya penyakit diare dan infeksi sangat mungkin untuk menyerang siapa saja."Sehingga kalau nggak ada antibiotik gimana?. Jadi antibiotik ini sebetulnya hanya perlu untuk di kontrol saja," ujarnya kepada wartawan, Senin (12/02/2018).

 

Amin menjelaskan, setiap obat memang tidak boleh diperjualbelikan secara bebas. Namun, seiring kemajuan pengetahuan, banyak masyarakat yang kini telah memahami manfaat dan fungsi dari penggunaan sebuah obat bagi dirinya."Selain itu di apotek kan tentu ada apotekernya. Sehingga walau apoteker bisa memberi, kan tetap ada aturannya," terangnya.

 

Yang menjadi masalah, lanjut Amin, adalah apabila meminum antibiotik tidak sesuai dengan dosisnya. Tentunya bila meminum antibiotik sesuai dosis, resistensi bakteri tidak akan terjadi."Apoteker dan dokter kan ngerti, sehingga akan memberi tahu. Jadi yang terjadi resistensi itu hanya bila meminumnya tidak sesuai aturan," jelasnya.

 

Amin mengaku dirinya belum pernah mendengar ada kasus orang yang meninggal dunia akibat mengkonsumsi antibiotik. Apalagi memang, kata dia, tidak semua penyakit juga butuh antibiotik untuk sembuh."Yang penting, tahu pakainya. Kalau disalahgunakan, memang namanya obat bisa menjadi racun. Jadi harus terkontrol dengan orang yang paham, dan semua ada aturannya," tuturnya.

 

Sebelumnya, Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Hari Paraton, SpOG (K) pernah mengatakan, penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak sesuai indikasi, jenis, dosis dan lamanya, serta kurangnya kepatuhan merupakan penyebab resistensi tersebut. Penyebab banyaknya kasus resistensi antibiotik, salah satunyadipicu oleh mudahnya masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter, baik di apotik, kios atau warung.

 

"Seharusnya, antibiotik tidak dijual bebas dan harus berdasarkan resep dokter. Menyimpan antibiotik dirumah merupakan kebiasaan yang banyak dijumpai di masyarakat. Padahal ini dapat mendorong terjadinya resistensi antibiotik," pungkasnya.(BS07)

 


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

RSJ Prof Ildrem Siap Bertransformasi Menuju Rumah Sakit Jiwa yang Ramah dan Inklusif

Kesehatan

Rumah Sakit Adam Malik Lakukan Penyesuaian Jadwal Pelayanan Selama Ramadan

Kesehatan

Ketika Masyarakat Kota Medan Nikmati Manfaat Program UHC JKMB

Kesehatan

Seminar Pemanfaatan Bahan Alam sebagai Bahan Obat dan Kosmetik di Pematangsiantar

Kesehatan

Pemko Medan Sambut Baik Barlangsungnya Hospital Leader Roundtable

Kesehatan

47 RS Provider BPJS di Medan Didorong Segera Siapkan Fasilitas Rawat Inap untuk Penerapan KRIS