Serum Anti Difteri Tak Boleh di Stok, di RSUP Adam malik Ada 4 Pasien Suspect Difteri

- Selasa, 06 Februari 2018 21:30 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir022018/9394_Serum-Anti-Difteri-Tak-Boleh-di-Stok--di-RSUP-Adam-malik-Ada-4-Pasien-Suspect-Difteri.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com-Keberadaan serum Anti Difteri Serum (ADS) tidak boleh di stok di daerah. Pasalnya, serum tersebut hanya bisa diperoleh ketika sedang dibutuhkan.Selain itu, serum ADS juga memiliki masa expired yang relatif sangat cepat. Sehingga hal itu tidak memungkinkan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk menyimpannya di kantor.

 

"Jadi untuk apa kita stok di kantor? Karena memang tidak boleh. ADS itu kan obat tertentu yang ketersediaannya kapan dibutuhkan. Sedangkan yang di stok itu adalah obat-obat rutin. Kalau di stok (ADS) di kantor bisa expired la dia," ujar Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinkes Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Agustama kepada wartawan, Selasa (06/02/2018).

 

Agustama menjelaskan, untuk bisa mendapatkan serum ADS tersebut, hanya bisa diperoleh ketika ada pasien yang diduga menderita difteri. Itupun, permintaannya dilakukan ketika spesimen pasien sudah dikirim ke Balitbangkes di Jakarta."Jadi setiap pasien yang di duga difteri dibawa ke RS Adam Malik. Disitu diambil spesimennya, dan dikirim ke balitbangkes. Sambil spesimen itu dikirim, disitulah kita minta ADS nya. Untuk setiap pasien itu mendapatkan 10 vial," terangnya.

 

Usai ADS tersebut diajukan, lanjut Agustama, maka selanjutnya akan segera langsung dikirim."Jadi ketika dibutuhkan saja baru kita minta. Untuk di RSUP Adam Malik, anggota kita juga setiap hari ada disana untuk memantau bila ada pasien-pasien yang diduga difteri," tegasnya.

 

Terpisah, Kasubag Humas RSUP Adam Malik, Masahadat Ginting mengatakan, bahwasanya untuk memperoleh ADS, prosedurnya ketika RS milik Kemenkes ini membutuhkan, maka akan di klaim ke Dinas Kesehatan  Provinsi.

 

Namun untuk saat ini, diakuinya, RSUP Adam Malik sedang memiliki stoknya, sehingga dipastikan aman untuk diberikan kepada pasien."Isu kosong itu hanya masalah komunikasi. Soalnya perawat terdepan nggak tahu bahwa Farmasi punya simpanan. Tapi setelah dikonfirmasi ke unit Farmasi ada, jadi pelayanan tidak tertunda," sebutnya.

 

Masahadat mengaku, untuk saat ini RSUP Adam Malik ada memiliki 7 vial ADS yang tersimpan. Sementara, menurut informasi yang di dapatkannya, kekosongan ADS untuk saat ini berada di Dinkes."Kalau kehabisan, kita memintanya ke Dinas Kesehatan Provinsi. Sebab untuk obat ini kan jalurnya khusus, sehingga kalau perlu kita klaimnya kesitu. Jadi walaupun kita RS pusat, tapi tetap yang mengelola ADS ialah Dinas Provinsi," paparnya.

 

Masahadat menyebutkan jika pada bulan Februari ini RSUP Adam Malik sedang merawat 4 pasien suspect difteri di gedung infeksius. Keempatnya masing-masing inisial MB (15), perempuan asal Sri Gunting Sunggal, ES (4), laki-laki, asal Simalungun, DP (18) perempuan, asal Pematang Siantar, dan SF (28) perempuan asal Siantar."Tiga pasien sudah disuntik ADS. Sedangkan untuk pasien SF, akan direncanakan untuk pengambilan swab pertama," pungkasnya.(BS07)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Pegawai Dinas Kesehatan Medan Rayakan Natal dengan Khidmat dan Penuh Sukacita

Kesehatan

Target Dinas Kesehatan, Sumut UHC 100% Paling Lama 2026

Kesehatan

Hari Kesehatan Nasional ke-60, Dinkes Medan Dorong Jaga Kesehatan Bersama

Kesehatan

Meski Belum Ada Temuan di Medan, Dinkes Medan Imbau Masyarakat Waspada Monkeypox

Kesehatan

Cuaca Panas, Dinas Kesehatan Imbau Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

Kesehatan

Dinkes Medan Targetkan Obati 18.000 Penderita TB