Beritasumut.com-Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan, tercatat hingga November 2017 terdapat sebanyak 1.157 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kota Medan. Penderita ODGJ baru di Medan rata-rata disebabkan narkoba, karena terbawa halusinasi dan euforia berkepanjangan. "Tahun 2016 jumlah ODGJ di Medan hanya sebanyak 705 orang. Namun saat ini sudah mencapai 1.157 orang. Padahal pada bulan Oktober lalu jumlahnya masih 1.054 orang," sebut Kepala Dinkes Kota Medan, Usma Polita melalui Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular (PTM) Pocut Fatimah Fitri kepada wartawan, Senin (27/11/2017). Meski angka ODGJ tinggi, sambungnya, akan tetapi pihaknya belum mendapatkan laporan angka pengidapnya membunuh atau bunuh diri di Medan. "Upaya kita terus mengedukasi masyarakat bahwa ODGJ ini perlu berobat medis. Obat juga kita siapkan bagi penderita. Karena psikiater di puskesmas terbatas, jadi Dinas Kesehatan melatih perawat untuk penanganan pertama," terangnya. Selain itu Fatimah menyampaikan, berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2017, depresi menduduki peringkat keempat di dunia menjadi penyakit yang mengancam masyarakat. Diperkirakan pada 2020 menjadi peringkat kedua setelah penyakit jantung dan pada 2030 menjadi beban kedua setelah HIV/AIDS. Jika tidak dikendalikan, lanjutnya, depresi bisa mengancam dan berujung bunuh diri. Untuk itu, ia mengaku pihaknya berperan menyadarkan masyarakat untuk berobat."Ini artinya ancaman global karena depresi. Bayangkan kalau banyak masyarakat pekerja depresi, ini kan mengganggu produktivitas," ungkapnya. Terpisah Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) menuturkan, jumlah ribuan ODGJ yang terdaftar di Dinkes Kota Medan itu menunjukkan sudah mulai ada peningkatan orang yang menggunakan fasilitas kesehatan jiwa. Artinya, saat ini telah tumbuh kesadaran masyarakat untuk berobat.(BS07)