Terkait Penemuan Cacing Pita Tim Peneliti FK UISU, Dinkes Sumut Belum Pastikan KLB di Simalungun

- Jumat, 03 November 2017 22:34 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir112017/4886_Terkait-Penemuan-Cacing-Pita-Tim-Peneliti-FK-UISU--Dinkes-Sumut-Belum-Pastikan-KLB-di-Simalungun-.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/BS07
Beritasumut.com-Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Utara (Sumut) Agustama menegaskan, bahwasanya pihaknya hingga kini belum memastikan kasus cacing pita jenis Taenia yang ditemukan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU) dari tubuh manusia, di Desa Nagori Dolok, Kecamatan Silau Kahaean, Kabupaten Simalungun, sebagai Kondisi Luar Biasa (KLB).

 

Selain itu, Agustama juga menyatakan, jika pihaknya saat ini juga belum bisa menganggap daerah itu endemik, meski  telah ada ditemukan cacing pita sepanjang 10,5 meter."Itukan masih hasil penelitian dr Umar Zein. Hasil resumenya juga belum ada, jadi belum bisa dipublikasi kali," ungkapnya kepada wartawan, Jumat (03/11/2017).

 

Untuk itu, Agustama mengaku, jika pihaknya sejauh ini masih menunggu tindak lanjut dari Dinkes Simalungun. Karena, ujar Agustama, Dinkes Simalungun juga belum ada memberikan pernyataan apapun terkait penemuan itu ke Provinsi."Kalau instansi (pemerintah) yang meneliti, baru boleh dinyatakan endemik, apalagi kalau disebut KLB," sebutnya.

 

Namun Agustama menjelaskan, memang sah-sah saja jika tim peneliti FK UISU menilai bahwa penemuan itu sebagai endemik cacing pita. Hanya saja imbuh Agustama, yang lebih berhak menilainya seperti apa adalah Dinkes Simalungun."Jadi Dinas Kesehatan Simalungun lah yang menindaklanjutinya bagaimana. Kalau minta bantu, kita bantu. Tapi kalau tidak, kita sebagai pembina dan pengawas saja," jelasnya.

 

Memang, lanjut Agustama, pada saat tim peneliti FK UISU turun ke desa tersebut, tim dari Dinkes juga ikut mendampingi. Hanya saja, Dinkes Sumut belum mendapatkan laporan lebih jauh mengenai temuan itu.

 

Disinggung mengenai tidak tersedianya obat Praziquantel untuk penderita cacing pita di Indonesia, Agustama mengatakan sudah menyatakan prihal itu ke pemerintah pusat. Akan tetapi, tutur Agustama, stoknya memang sedang habis atau tidak tersedia."Lagi habis. Kita nggak tahu juga apakah tahun depan sudah pasti ada. Tapi sudah kita mintakan. Tahun depan pengadaan kita," tegasnya.

 

Seperti yang diketahui, tim peneliti FK UISU telah kali keduanya berhasil menemukan cacing pita yang disebut-sebut terpanjang di dunia. Pertama, sepanjang 2,86 meter, lalu kemudian 10,5 meter.

 

Ketua Tim Peneliti FK UISU DR dr Umar Zein, DTM&H sebelumnya mengatakan, timbulnya cacing pita ini, akibat kebiasaan masyarakat setempat yang gemar mengkonsumsi hewan babi dalam keadaan mentah. Sehingga embrio cacing pita yang terdapat dalam daging itu, saat dikonsumsi menempel di usus warga, lalu tumbuh dan berkembang hingga sangat panjang.(BS07)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Sekda Binjai Terima Kunjungan FOKKUS BABINROHIS Sumut

Kesehatan

Pegawai Dinas Kesehatan Medan Rayakan Natal dengan Khidmat dan Penuh Sukacita

Kesehatan

Wabah KLB Malaria dan DBD di Nisel Diperpanjang hingga Akhirnya Desember

Kesehatan

Target Dinas Kesehatan, Sumut UHC 100% Paling Lama 2026

Kesehatan

Hari Kesehatan Nasional ke-60, Dinkes Medan Dorong Jaga Kesehatan Bersama

Kesehatan

Walikota Pematangsiantar dan Dandim 0207Simalungun Tandatangani Kesepakatan Pelaksanaan TMMD