Kepedulian Masyarakat Rendah, Masyarakat Diminta untuk Selalu Rutin Cek Payudara

- Selasa, 10 Oktober 2017 00:30 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir102017/504_Kepedulian-Masyarakat-Rendah--Masyarakat-Diminta-untuk-Selalu-Rutin-Cek-Payudara.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Beritasumut.com-Setiap bulan Oktober, di dunia dan Indonesia diperingati sebagai bulan kepedulian kanker payudara (breast cancer). Namun, hingga saat ini kepedulian masyarakat terhadap penyakit mematikan nomor satu itu dinilai masih sangat rendah.

 

Dokter spesialis bedah dr Denny Rifsal Siregar SpB (K) Onk MKes menyebutkan, sebanyak 70 hingga 80 persen pasien kanker payudara yang datang berobat ke dokter umumnya sudah stadium akhir. Kondisi itu menurutnya disebabkan pasien tidak pernah mendeteksi dini benjolan dengan memeriksa payudaranya.

 

"Umumnya pasien datang sudah stadium tiga atau empat dan biasanya payudaranya sudah membusuk dan bernanah. Sudah parah dan penanganannya lebih sulit. Kanker ini sederhana, tidak ada rasa sakit di payudara, namun tiba-tiba sudah kanker," ujarnya kepada wartawan, Senin (9/10/2017).

 

Denny mengatakan, hanya ada 20 persen masyarakat yang sadar dengan datang berobat ketika masih stadium satu. Hal itu disebabkan karena kurangnya informasi dan pemahaman tentang kanker payudara. Lalu, ada yang sudah menjalani pengobatan alternatif namun tidak sembuh dan akhirnya datang ke dokter ketika kondisinya sudah semakin parah.

 

"Sebenarnya yang paling penting adalah deteksi dini. Jika dideteksi sejak awal dan berobat pada ahlinya, kanker bisa diobati. Meskipun dalam perawatannya kanker adalah sakit yang tidak pernah benar-benar sembuh, harus tetap ada pengawasannya dan berobat ke dokter yang sesuai," jelasnya.

 

Untuk itu, masyarakat diimbau supaya memeriksakan payudara sendiri (SADARI) tujuh atau sepuluh hari setelah haid untuk melihat ada benjolan atau tidak. Deteksi juga harus dilakukan pada wanita berusia 35 sampai 40 tahun dengan skrining mamografi. "Umur 35 sampai 40 tahun sangat rentan terserang kanker payudara. Makanya harus mamografi untuk mengecek. Waspadai juga jika ada darah yang keluar dari puting," jelasnya.

 

Tidak hanya wanita usia kepala tiga, perempuan berusia 20 tahunan juga bisa terserang penyakit mematikan ini. Karenanya, Denny menyarankan agar menjaga gaya hidup, rajin berolahraga, segera menikah dan menyusui anak, kurangi mengkonsumsi obat hormonal (pil KB) dan selalu terapkan SADARI. Dalam hal ini, faktor genetik hanya menyumbang lima hingga 10 persen penderita kanker payudara.

 

"Tidak ada kendala dalam pengobatan penyakit ini. Hanya memang diperlukan kesadaran tinggi masyarakat untuk tanggap dan peduli memeriksakan dirinya. Biasanya banyak yang takut karena akan dikemoterapi atau payudaranya akan diangkat dan pengaruh informasi yang salah dari anggota keluarga," terangnya.

 

Denny menyebutkan, kanker payudara merupakan kasus kanker terbanyak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebelumnya kanker serviks, tetapi sekarang untuk penanganan serviks sudah ada vaksinnya.

 

"Kanker tidak bisa sembuh, makanya kita bilang survivor. Tetapi jika berobat lebih awal maka kualitas hidupnya bisa seperti orang normal. Penanganan kanker berkesinambungan harus betul-betul datang ke ahlinya karena kasus kanker payudara pada satu orang berbeda dengan yang lainnya," tuturnya.

 

Hingga saat ini, sambung Denny, di Sumatera Utara (Sumut) hanya ada 10 dokter spesialis bedah onkologi untuk menangani penyakit ini. Enam di antaranya terdapat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik."Sangat sedikit dokter spesialis ini, padahal kasusnya sangat banyak. Satu orang di RSUD dr Pirngadi, satu orang di RS Elisabeth dan dua lainnya sekarang sudah lanjut usia," pungkasnya.(BS07)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Dokter dan Perawat RS Adam Malik Peringati Hari Kanker Anak Bersama Pasien

Kesehatan

Pj Gubernur Sumut Harapkan Pusat Onkologi RSUPHAM Akan Bantu Tingkatkan Layanan Penyembuhan Kanker

Kesehatan

Walikota Medan Dampingi Wamenkes Groundbreaking Oncology Center Building Adam Malik Hospital

Kesehatan

RS Adam Malik Bangun Gedung Pusat Onkologi Terpadu untuk Layanan Kanker

Kesehatan

Pemprov Sumut Raih Penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI

Kesehatan

Hari Kanker Anak Sedunia, Tenaga Kesehatan RS Adam Malik Bergembira Bersama Pasien