Beritasumut.com-Dokter Ahli Kejiwaan Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) mengungkapkan kondisi yang dialami oleh para pengungsi Rohingya sangat memprihatinkan. Akibatnya para pengungsi Rohingya ini akan rentan mengalami stres akut. "Sebab kondisi psikologis para pengungsi Rohingya tidak stabil, dan emosinya juga berfluktuasi. Karenanya perasaan mereka akan disertai rasa kecemasan dan ketakutan," ujar Elmeida kepada wartawan, Rabu (06/09/2017). Elmeida menyebutkan, reaksi stres akut atau gangguan stres pascatrauma yang menyerang pengungsi Rohingya ditandai dengan penghindaran, mudah terkejut dan berulang kali mengalami kilas balik akan hal-hal mengerikan yang telah dilewati. Kondisi itu selain pada anak-anak juga bisa terjadi bagi orang dewasa. "Karenanya di kemudian hari, mereka bisa rentan mengalami berbagai gangguan jiwa. Antara lain depresi atau menjadi pribadi yang kasar karena melihat secara langsung kekerasan dan kesadisan di depan mata mereka," jelasnya. Tak hanya itu, Elmeida juga menyampaikan, bahwa pengungsi Rohingya terkadang bisa juga mengalami rasa hampa, tidak berdaya atau tidak bersemangat dalam menjalami kehidupan sehari-hari. Kemudian, untuk anak-anak akan mengalami trauma psikologis yang berat. "Untuk itu para pengungsi Rohingya tersebut butuh pendampingan terhadap kondisi psikologis mereka. Diperlukan observasi intensif untuk mengenali gejala gejala dan tanda tanda dini gangguan stres akut yang tampak," paparnya. Ke depannya, tambah Elmeida, ia mengkhawatirkan bisa saja anak dari para pengungsi tersebut terus mengalami depresi hingga dewasa karena kecendrungan peristiwa yang dialami. Hal itu disebabkan besarnya pengaruh riwayat trauma dan pengalaman tidak menyenangkan yang dialaminya ketika di masa kanak-kanak. "Jika diperlukan, pihak-pihak yang peduli bisa mengajak mereka berkonsultasi ke psikiater atau psikolog. Tujuannya agar para pengungsi belajar bagaimana caranya menghadapi permasalahan," pungkasnya.(BS07)