Sekitar 12,9 Persen Kematian di Indonesia Disebabkan Penyakit Jantung

- Jumat, 04 Agustus 2017 05:45 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir082017/8627_Sekitar-12-9-Persen-Kematian-di-Indonesia-Disebabkan-Penyakit-Jantung.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Beritasumut.com-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah menghimbau, agar seluruh komponen bangsa baik pemerintah, swasta dan masyarakat untuk berpartisipasi dan mendukung upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit jantung koroner. Sehingga angka kesakitan, kematian dan kecacatan karena penyakit ini  dapat diturunkan.

 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI, dr Lily S Sulistyowati menyebutkan, berdasarkan data dari Survey Sample Registration System (SRS) tahun 2014 menunjukkan bahwa penyakit jantung kini menjadi penyebab kematian tertinggi. Bahkan, sekitar 12,9% kematian di Indonesia, diakibatkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah."Hal ini tentu berpotensi untuk terus meningkat setiap tahunnya," ungkap dr Lily kepada wartawan, Kamis (03/08/2017).

 

Penyebab utama meningkatnya penyakit jantung koroner, jelas dia, terutama adalah gaya hidup modern yang minim aktivitas dan gerakan fisik (sedentari). Masyarakat lebih banyak duduk sepanjang hari di balik meja kerja hingga memanfaatkan jasa asisten rumah tangga atau online untuk segala urusannya."Malas bergerak adalah kebiasaan yang perlu diubah. Karena dampak risiko dari gaya hidup, akan mulai terasa setelah bertahun-tahun," jelasnya.

 

Sementara itu, lanjut dia, menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes tahun 2013, sebanyak 42% atau hampir separuh proporsi penduduk yang masuk dalam kelompok usia di atas 10 tahun berperilaku sedentari atau, 1 dari 4 penduduk kita, menerapkan perilaku sedentari minimal 6 jam setiap harinya. Sedangkan data dari WHO menunjukkan gaya hidup sedentari adalah 1 dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia.

 

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Dr Vito A Damay Sp JP MKes FIHA FICA mengatakan, gaya hidup yang aktif dan rutin berolahraga, serta menerapkan pola makan seimbang rendah lemak jenuh dan kolesterol merupakan hal yang efektif mencegah faktor risiko utama penyakit jantung. Selain itu, pengasuh redaksi medis klikdokter.com ini juga menyebutkan kolesterol dan penyakit kardiovaskuler juga terkait proses ateroklerosis, yaitu suatu kondisi yang terjadi ketika terbentuk plak pada dinding pembuluh darah arteri.

 

"Sehingga darah sulit untuk mengalir melalui arteri. Plak juga bisa pecah dan memicu terbentuknya bekuan darah dan gangguan aliran darah ini dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung atau stroke,” jelasnya.

 

Diny Elvirani selaku Group Business Unit Special Needs and Healthy Lifestyle, Kalbe Nutritionals mengatakan Tahun 2017 ini, bersama dengan Kemenkes, Yayasan Jantung Indonesia dan KlikDokter.com kembali mengkampanyekan gerakan jantung sehat. Hal ini diadakan untuk meminimalisir penderita kolesterol dan jantung koroner yang ada di Indonesia.(BS07)

 


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Tegaskan Komitmen Pelayanan Pasca-libur Lebaran

Kesehatan

BPJS Kesehatan Pastikan Akses Layanan JKN Tetap Terbuka Selama Libur Lebaran

Kesehatan

Sidak RSUD Djoelham, Wawako Binjai Pastikan Semua Pelayanan Setara

Kesehatan

Wakil Walikota Medan Resmi Berkantor di Rumah Sakit Pirngadi

Kesehatan

Walikota Medan Tekankan Pentingnya Pelayanan Kesehatan yang Humanis

Kesehatan

Gubernur Sumut Gerak Cepat Beri Solusi Masalah Kesehatan di Nias Utara