Beritasumut.com-Sesuai dengan perkiraan World Health Organization (WHO), setiap tahunnya terdapat sekitar 100 ribu bayi di dunia terlahir dengan virus rubella kongenital.Sindrom rubella kongenital ini sebut dia sangat berbahaya, karena akan dapat menyebabkan bayi cacat pada saat dilahirkan. "Akibatnya bayi dapat tuli, katarak, penyakit jantung kongenital, kerusakan otak, organ hati, paru-paru, diabetes tipe 1, hipotiroidisme, serta pembengkakan otak juga dapat berkembang pada anak yang terlahir dengan sindrom ini," ujar Dokter spesialis penyakit anak, dr Rita Evalina Rusli MKed (Ped) SpA (K) kepada wartawan, Jumat (21/07/2017). Rita mengatakan, rubella pada anak, gejalanya lebih ringan dari orang dewasa. Tampilannya yang mirip dengan campak, menyebabkan banyak yang tidak sadar dan merasa tidak perlu berobat."Selain anak-anak dan dewasa, penyakit ini juga bisa menyerang remaja," ujar dokter di RSUP Haji Adam Malik ini. Penularan utamanya, jelas dia, dapat melalui butiran liur di udara yang dikeluarkan penderita melalui batuk atau bersin. Berbagi makanan dan minuman dalam piring atau gelas yang sama dengan penderita juga dapat menularkan Rubella."Gejalanya berupa ruam merah pada kulit mirip campak, tapi lebih ringan. Ada juga penderita rubella yang tidak mengalami gejala apa pun dan tetap dapat menularkan rubella. Penyakit ini pada umumnya membutuhkan waktu sekitar 14-21 hari sejak terjadi sampai menimbulkan gejala (masa inkubasi)," jelasnya. Lebih lanjut, diterangkan Rita, gejala-gejala umum rubella meliputi demam, sakit kepala, hidung tersumbat atau beringus, tidak nafsu makan, iritasi ringan pada mata, pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher. Ruam berbentuk bintik-bintik kemerahan yang awalnya muncul di wajah, lalu menyebar ke badan, tangan, dan kaki. "Ruam ini umumnya berlangsung selama 1-3 hari," imbuhnya. Selain itu, kata Rita, nyeri pada sendi juga terjadi terutama pada penderita remaja wanita. Jika menyerang wanita yang sedang hamil, terutama sebelum usia kehamilan lima bulan, Rubella berpotensi tinggi untuk menyebabkan sindrom rubella kongenital atau bahkan kematian bayi dalam kandungan."Namun di RS Adam Malik, kasusnya memang tidak banyak ditemukan," ucapnya. Pencegahan rubella yang paling efektif sambung Rita adalah dengan vaksinasi, terutama bagi wanita yang berencana untuk hamil. Sekitar 90 persen orang yang menerima vaksin ini akan terhindar dari rubella. Rubella tambah Rita, tidak membutuhkan penanganan medis khusus. Pengobatan dapat dilakukan di rumah dengan langkah-langkah sederhana, seperti, banyak minum dan istirahat, obat penurun demam atau untuk mengurangi rasa sakit-sakit di sendi. Tujuannya adalah untuk meringankan gejala, dan bukan untuk mempercepat penyembuhan."Tapi sejak adanya program vaksinasi, jumlah kasus rubella yang tercatat secara global berkurang secara signifikan," pungkasnya.(BS07)