Beritasumut.com-Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, dr Bambang Prabowo MKes mengatakan bahwa kemampuan dan pengetahuan dokter serta tenaga ahli medis di tanah air tidak kalah saing dengan dokter lain yang ada di luar negeri. "Di Sumatera Utara (Sumut) sering kita temui pasien berobat ke luar negeri. Tetapi ketika mereka tidak menemukan sesuatu di sana (sembuh), mereka justru kembali ke sini. Beberapa pejabat pun bahkan begitu perilakunya," terangnya disela-sela kegiatan halal bil halal di Aula Rumah Sakit milik Kemenkes, Senin (03/07/2017). Namun Bambang mengakui, untuk pelayanan non medis RS lokal memang sedikit ketinggalan, seperti halnya masalah keramahtamahan. Untuk itu, sebut Bambang perlu perbaikan, dan RSUP H Adam Malik melakukannya melalui akreditasi Joint Commission International (JCI) yang ditarget akan diraih pada November mendatang. "Kalau masalah pengetahuan, dokter dan tenaga ahli medis kita tidak kalah. Banyak orang memilih berobat ke luar negeri karena masyarakat tidak tahu produk yang dihasilkan RS lokal," jelasnya. Ia menjelaskan, jika masyarakat mengetahui produk yang dihasilkan RS, maka akan sedikit orang yang berobat ke luar negeri. Misalnya, RSUP H Adam Malik yang juga bisa melakukan transplantasi ginjal. Namun, lanjut dia, tidak semua produk RS bisa diketahui masyarakat, apalagi milik pemerintah. Sebab, ada aturan dalam Undang-Undang, yang menyatakan RS negeri tidak boleh melakukan promosi. Karenanya imbuh Bambang, RS milik pemerintah harus bisa meningkatkan layanannya hingga ke non medis. Tapi ia mengaku, pembenahan ini memang memerlukan anggaran yang cukup besar."Pelayanan akan kita standarkan. Apalagi dengan adanya kaitan banyaknya orang berobat ke luar negeri," terangnya Bambang menerangkan, dibandingkan dengan Singapura yang memiliki RS canggih, RS di Indonesia jumlahnya jauh lebih banyak, bahkan hingga ribuan. Akibatnya, dana untuk penunjang pembangunan RS menjadi terbagi-bagi."Kita masih fokus untuk mencapai JCI. Acuannya adalah kebersihan, sarana dan prasarana. Kita rujukan regional dan nasional, makanya standar kita harus JCI," pungkasnya.(BS07)