Penyakit Skizofrenia Sering Dikaitkan dengan Kemasukan Roh

Herman - Jumat, 26 Mei 2017 01:01 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir052017/978_Penyakit-Skizofrenia-Sering-Dikaitkan-dengan-Kemasukan-Roh.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ilustrasi
Beritasumut.com-Dokter spesialis penyakit jiwa, Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) menyebutkan, satu dari seratus orang di setiap negara di dunia mengalami skizofrenia atau gangguan jiwa berat. Namun penyakit ini seringkali dikaitkan dengan guna-guna, kutukan, kemasukan roh jahat dan hal-hal gaib lainnya. 

 

"Masyarakat banyak yang belum paham tentang skizofrenia dan seringkali mengaitkannya dengan hal-hal gaib. Bahkan kalangan terpelajar sekalipun masih banyak yang mempercayainya," ungkapnya, kepada wartawan, di Medan, Kamis (25/05/2017).

 

Elmeida mengatakan, gejala skizofrenia bisa terlihat, misalnya seseorang sering mengalami delusi, halusinasi, penarikan diri dari sosial, agresivitas tinggi dan terganggunya fungsi kognitif. Gangguan ini tidak hanya mempengaruhi penderita, tetapi juga menimbulkan beban besar terhadap keluarga, masyarakat dan pemerintah.

 

Penyakit ini, sebut Elmeida, bisa diderita oleh masyarakat tanpa memandang tingkat pendidikan dan ekonominya. Karenanya setiap tanggal 24 Mei, selalu diperingati hari Skizofrenia sedunia.

 

"Gejala paling sering ialah mengalami halusinasi pendengaran. Pasien sering mendengarkan suara-suara tanpa sumber jelas dan kadang membalasnya, sehingga sering terlihat seperti berbicara sendiri," jelasnya.

 

Bahkan, lanjut Elmeida, beberapa penderita sering berhalusinasi mendengar suara yang memerintahkan melakukan hal jahat, bunuh diri dan orang lain. Sebagaimana juga dengan gangguan jiwa yang lainnya, skizofrenia juga disebabkan banyak faktor, seperti genetik, biologik dan psikososial.

 

"Orang yang memiliki keluarga skizofrenia bisa mewariskan gen penyakit ini. Namun tidak harus berkembang menjadi skizofrenia juga. Lalu faktor biologik diakibatkan ketidakseimbangan zat-zat kimia di otak," terangnya.

 

Sedangkan dari segi psikososial, sambungnya, bisa berupa hal-hal yang menyebabkan stresor pada pasien. Misalnya komunikasi yang membingungkan, kata -kata menyakitkan dan pengalaman tidak menyenangkan.

 

Ia menyampaikan, rata-rata pasien jiwa yang berobat ke rumah sakit (RS) umum bagian psikiatri, RS jiwa pemerintah maupun swasta, diagnosisnya kebanyakan adalah skizofrenia. Namun pada umumnya, yang datang berobat sudah dalam kategori parah, karena sebelumnya pengobatan justru dilakukan pada dukun atau paranormal.

 

"Setiap hari di praktik sore saya ada dua sampai tujuh pasien skizofrenia. Lalu tugas pagi ada sampai tiga pasien. Jadi sangat banyak penderita gangguan jiwa jenis ini," sebutnya.

 

Elmeida mengaku, banyak masyarakat yang mengidentikkan berbagai jenis gangguan jiwa dengan istilah gila. Kata ini sering dipakai untuk gangguan jiwa berat, umumnya yang psikotik. Dalam hal ini, penderita sudah tidak bisa membedakan khayalan dan kenyataan.

 

"Jika fase -fase penyakit skizofrenia sudah tenang, yang terjadi kemudian adalah gangguan atau kemunduran kognitif pasien. Misalnya, yang dulu ranking 1 jadi tidak bisa lagi melanjutkan prestasi di sekolah," pungkasnya.(BS07)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Empat Besar Kasus Gangguan Jiwa Tertinggi, Sumut Dorong Gerakan Eliminasi Disabilitas Intelektual

Kesehatan

Angka Gangguan Jiwa Tinggi, Psikolog Minta Pemerintah Lakukan Promkes

Kesehatan

Kasus Gangguan Jiwa Sumut 18.514 Orang, Dinkes: Penggunaan Narkoba Jadi Penyebab

Kesehatan

Orang dengan Gangguan Jiwa Banyak Berkeliaran di Jalanan Kota Medan, Ini Ternyata Penyebabnya

Kesehatan

Dinkes: Pemasungan Terhadap Orang Gangguan Jiwa Tindakan Salah

Kesehatan

Kurang Edukasi, Pengobatan Penderita Gangguan Jiwa Banyak yang Tidak Tepat