Beritasumut.com-Kendati sudah begitu banyak edukasi yang diberikan baik oleh kalangan medis maupun non medis mengenai bahaya penyakit diabetes melitus (DM), namun masih saja banyak masyarakat yang cenderung mengabaikannya. Prof dr Darwin Dalimunthe PhD menyampaikan, meski secara umum masyarakat sudah sadar akan bahaya penyakit ini, tetapi tetap saja banyak yang enggan untuk menjaga pola makannya. "Masyarakat sudah tahu DM tipe II itu berbahaya. Tetapi banyak yang tidak bisa menjaga mulut dan mengendalikan nafsu makannya. Gaya hidup saat ini memang sangat mempengaruhi kondisi tersebut," katanya dalam temu pers usai seminar kesehatan mengenai Diabetes, di Medan, Sabtu (08/04/2017). Menurut Darwin, sangat sulit mendidik masyarakat dalam menjaga mulut karena banyak sekali makan di luar kebutuhan. Padahal ia menuturkan, faktor obesitas (kegemukan) karena makan berlebihan (over eating) menyumbang 60 persen hingga 70 persen penyebab DM tipe II. "Kondisi ini umumnya terjadi di negara-negara maju dan berkembang," sebutnya. Di Indonesia sendiri, jelas dia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sebanyak 5,7 persen dari total jumlah penduduk menderita diabetes. Trennya meningkat setiap tahun, tetapi masih banyak masyarakat yang belum sadar gaya hidup tidak sehat sangat mungkin menyebabkan DM tipe II. "Kalau di Medan, masyarakat yang menderita diabetes berjumlah kira-kira 1,7 persen dari total penduduk. Sekarang di Indonesia sangat banyak orang gemuk," jelasnya. Pada tahun 2030, International Diabetes Federation (IDF) memprediksikan terdapat 398 juta penduduk dunia mengalami prediabetes. Ia mengatakan, prediabetes adalah istilah tahap penanda awal penyakit DM tipe II, kondisi ini terjadi ketika level gula darah melebihi batas normal namun belum terlalu tinggi untuk dikategorikan DM tipe II. "Penderita prediabetes berisiko lebih besar terserang DM tipe II. Kondisi ini bisa dijadikan pengingat untuk segera berubah ke arah pola hidup lebih baik," ujarnya. Menurut hasil Riskesdas, prevalensi prediabetes di Indonesia cukup tinggi kira-kira 10,2 persen atau diperkirakan 24 juta penduduk menderita prediabetes. Kondisi ini berisiko berlanjut menjadi DM tipe II dan tidak hanya itu, prediabetes juga memicu berbagai macam penyakit serius. Sementara itu, Regional Marketing Manager Klinik Prodia Marissa Arifin, MKes menambahkan, saat ini pihaknya tidak hanya mengedukasi masyarakat tentang bahaya penyakit DM tipe II. Tetapi juga memberi motivasi agar seseorang peduli diabetes dan menjaga kesehatan seutuhnya (wellness). "Kami bersama dengan tim mengedukasi dan memotivasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. Dengan mengetahui diagnosa prediabetes, warga bisa mengantisipasi dan mengurangi peningkatan angka penderita DM tipe II," terangnya. Ia menjelaskan, saat ini, fokus upaya kesehatan penyakit DM tipe II lebih banyak dilakukan ke arah pengobatan (kuratif) dibandingkan tindak pencegahan (preventif). Padahal, pencegahan sangat bermanfaat mengurangi peningkatan angka penderita DM tipe II. "Pasien diajak berpartisipasi aktif dalam menjaga kesehatan mereka. Berupaya meningkatkan wellness dan menempatkan diri sebagai rekan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan tentang kesehatan mereka," pungkasnya.(BS07)