Awas, Gangguan Bipolar Bisa Picu Perilaku Bunuh Diri

- Rabu, 29 Maret 2017 23:15 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir032017/6519_Awas--Gangguan-Bipolar-Bisa-Picu-Perilaku-Bunuh-Diri.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Beritasumut.com/IST
Beritasumut.com-Tiap tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Bipolar Sedunia atau World Bipolar Day (WBD). Peringatan ini ber-tujuan untuk meningkatkan kesadaran secara global mengenai gangguan bipolar dan menghapuskan stigma sosial bagi penderitanya, serta memberikan informasi tentang gangguan bipolar agar pengidapnya mendapatkan dukungan dan perawatan hingga sembuh.

 

Dr dr Elmeida Effendy MKed SpKJ (K) dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) mengungkapkan, gangguan bipolar yang diderita sebagian pasien dapat memicu tindakan ekstrem, seperti melakukan bunuh diri."Kondisi ini sering mengganggu kehidupan kerja dan hubungan penderita. Berisiko tinggi mengalami masalah penyalahgunaan zat. Tingkat bunuh dirinya juga mencapai 10 persen hingga 15 persen," ungkapnya kepada wartawan, Rabu (29/03/2017).

 

Elmeida menjelaskan, gangguan bipolar terbagi dalam dua jenis, yaitu bipolar tipe I dan tipe II berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder 5 (DSM 5). Ia menyebutkan, bipolar tipe I merupakan yang paling umum, di mana penderita akan mengalami episode manik dan depresi secara bergantian berupa sering mengalami kegembiraan yang berujung pada tindak berbahaya.

 

Sedangkan, pada gangguan bipolar tipe II, penderita akan mengalami episode depresi dan hipomanik. Di episode ini, depresinya sangat menonjol dan terkadang episode hipomaniknya luput dari perhatian. Hal ini dapat menyebabkan rusaknya hubungan interpersonal, rendahnya motivasi dan produktivitas di tempat kerja dan paling membahayakan melakukan tindakan bunuh diri.

 

"Kurang lebih 50 persen penderita bipolar mengalami ketergantungan pada zat adiktif. Mereka juga kehilangan kontak dengan realita. Kondisi ini terjadi selama episode manik ekstrem maupun depresi berat," jelasnya.

 

Elmeida menyampaikan, kondisi yang dialami ditunjukkan sebagai ego berbahaya maupun rasa bersalah yang tidak sebanding dengan peristiwa nyata. Penderita bipolar dapat mengalami delusi dan halusinasi."Bagaimana cara mengenali gangguan bipolar? Perhatikan perubahan suasana perasaan. Pahami bahwa gangguan bipolar tidak serta merta membuat seseorang tidak mampu beraktivitas dengan normal," terangnya.

 

Menurutnya, sebagian penderita mungkin mengalami kesulitan dalam bekerja dan belajar di sekolah. Namun, penderita lainnya bisa beraktivitas dengan baik dalam kegiatan sehari-hari."Bipolar membawa dampak yang merugikan bagi penderita, keluarga dan masyarakat sekitar. Mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman tentang gangguan ini sehingga dukungan dan bantuan awal terhadap bipolar masih belum banyak," pungkasnya.(BS03)

 


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Perjuangan Pengacara Kondang Berbuah Hasil, Pemko Medan Rubuhkan Tembok PT SBP

Kesehatan

Arus Balik Lebaran, Pertamina Sumbagut Bersama Staf Khusus Menteri ESDM Pastikan Kesiapan Layanan Energi

Kesehatan

Pertamina EP Pangkalan Susu Dorong Konservasi Mangrove Lewat Pelatihan Silvofishery

Kesehatan

Youthpreneur Academy 2025: The Founder’s Path for Practical Entrepreneurial Success, FEB USU Dorong Mahasiswa Jadi Entrepreneur Sukses

Kesehatan

Seminar Nasional “Nvidia Powers the World's Ai & Yours” di Universitas Sumatera Utara

Kesehatan

Kapolres Pematangsiantar Kunjungi Yayasan Rumah Ramah Anak Berkebutuhan Khusus