Beritasumut.com-Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Sumut) Agustama, melalui Kabid PMK Dinkes Sumut NG Hikmet, menyebutkan sebanyak 60-70 persen kematian pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dikarenakan tuberkulosis. Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) menunjukkan peningkatan pada kasus tuberkulosis (TB). Adanya peningkatan ini merupakan tantangan terbesar dalam pengendalian TB, bahkan pengendaliannya tidak akan berhasil dengan baik tanpa keberhasilan pengendalian TB. "Pasien HIV tinggi angka kematiannya karena TB Paru. Kasus TB ini juga sulit sembuh dan ketika diperiksa ternyata positif HIV. Makanya penanganannya harus dikolaborasi," ungkap NG Hikmet kepada wartawan, Kamis (23/03/2017). TB Paru jelas Hikmet, merupakan infeksi oppurtunistik yang terbanyak atau 40 persen dijumpai pada ODHA dibandingkan penyakit oppurtunistik lainnya. "Epidemi HIV di Indonesia berada pada kondisi terkonsentrasi dengan kecendrungan menjadi epidemi meluas pada beberapa provinsi," jelasnya. Saat ini, ujar Hikmet, Sumut sedang menghadapi berbagai permasalahan HIV/AIDS yang muncul diberbagai bidang seperti kesehatan, ekonomi dan sosial kemasyarakat. "Kalau jumlah kasus HIV/AIDS di Sumut sampai akhir tahun 2016 sekitar 11.973 kasus. Penderita AIDS yang mendapat obat Antiretroviral (ARV) sebanyak 7.332 kasus," ujarnya. Untuk menanganinya, berbagai layanan HIV telah dikembangkan dan dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkannya. Namun, masih terjadi miss oppurtunity kebutuhan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkannya. "Peningkatan akses dan kualitas intervensi layanan dalam jejaring layanan yang terintegrasi an berkaitan satu dengan lainnya. Sehingga perlu diperkuat dan didekatkan akses layanan ke masyarakat melalui layanan komprehensif berkesinambungan di kabupaten/kota," sebut Hikmet. Oleh karena itu, lanjut Hikmet, diperlukan kegiatan kolaborasi TB HIV sebagai bagian dari upaya pengendalian TB dan upaya meningkatkan keberhasilan pengendalian HIV/AIDS serta perlu didukung oleh petugas pelaksana yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang memadai. "Kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui pelatihan kolaborasi TB HIV untuk bertugas di tingkat layanan yang bekerja di unit TB maupun yang bekerja di sarana pelayanan konseling dan tes HIV secara sukarela dan perawatan, dukungan dan pengobatan HIV," tegas Hikmet. Setiap petugas di unit TB dan HIV, sambungnya, terlebih dahulu harus memahami secara jelas tentang informasi dasar HIV/AIDS dan TB. "Dalam pelatihan ini juga ada materi inti yang membahas secara detil informasi dasar yang meliputi epidemiologi HIV dan TB, ko-infeksi TB HIV dan konsep layanan komprehensif berkesinambungan dan strategi DOTS," tukasnya. Intinya, ungkap Hikmet kembali, setiap pemeriksaan TB, seorang petugas harus mengarahkan pasien agar diperiksa HIV terutama kelompok kunci. "Orang HIV (juga) otomatis harus diperiksa TB. Tidak peduli dari kelompok mana, ini agar bisa segera diobati sehingga tidak menularkan ke orang lain," pungkasnya. (BS03)