Beritasumut.com-Dokter Denny Rifsal Siregar SpB(K) ONK MKes meminta agar masyarakat bisa menyaring informasi kesehatan yang dibaca dari internet maupun media sosial. Denny mengatakan, mengonsumsi kedelai dalam batas wajar tidak perlu dikhawatir-kan.Anggapan masyarakat bahwa tanaman ini bisa menyebabkan meningkatnya hormon estrogen sehingga memicu penyakit kanker payudara hanyalah mitos. "Protein kedelai sangat bagus. Tidak memicu perkembangan hormon estrogen pada penderita kanker payudara," ujar Denny kepada wartawan, Selasa (21/03/2017). Denny menjelaskan, yang berbahaya itu ketika protein yang tinggi pada kedelai bersatu dengan lemak tinggi di dalam tubuh. Pasalnya kedelai memiliki struktur mirip dengan struktur kimia pemicu estrogen, namun belum tentu estrogen.Estrogen berlebih memang menjadi salah satu pemicu kanker payudara. Namun, ia menyebutkan konsumsi kedelai belum terbukti meningkatkan risiko kanker payudara sehingga masyarakat tidak perlu takut. Menurutnya hal yang lebih memicu estrogen lebih tinggi berupa faktor sporadik risiko kanker payudara di antaranya lemak tinggi, konsumsi obat hormonal misalnya pil Keluarga Berencana (KB), tidak menikah, tidak punya anak, usia kehamilan di atas 35 tahun, menopause lebih dari 51 tahun, usia menstruasi pertama kurang dari 12 tahun dan gaya hidup."Sedangkan faktor genetik hanya menyumbang lima hingga 10 persen risiko kanker payudara," sebutnya. Selama ini, lanjut Denny, ia tidak pernah menangani masalah kanker payudara yang disebabkan kedelai, bahkan belum ada kasusnya di Sumatera Utara. Malah kedelai sebut dia, sangat berguna bagi tubuh karena proteinnya. Dalam sehari, ia menangani 10 sampai 15 orang penderita kanker payudara. Menurutnya, tidak semua penelitian yang ditampilkan sudah diakui secara internasional dunia kedokteran. Harus diketahui riwayat penelitian itu dan baca metode ilmiah yang digunakan. Beberapa penelitian bahkan menampik kedelai berbahaya. "Ada malah peneli-tian yang menyebutkam kacang ini bagus untuk memblokir pertumbuhan estrogen yang memicu kanker payudara," pungkasnya.(BS03)