Beritasumut.com-Warga Tapanuli Utara berinisial RS (13) meninggal dunia pada Senin (13/03/2017) lalu. RS meninggal setelah sebe-lumnya digigit anjing yang diduga membawa penyakit rabies. Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Sumut dr Yulia Maryani mengatakan, Dinas Kesehatan hanya menangani penyakit termasuk pemberian vaksin dan penataan setelah Rabies dan menindaklanjutinya. Sedangkan untuk masalah hewan penanganannya di Dinas Peternakan. Yulia mengatakan, pada manusia dan hewan, inkubasinya 3 sampai 8 minggu, tapi pernah yang 5 hari meninggal pasiennya. Begitupun, terangnya, pernah juga masa inkubasinya 2 tahun seperti 2014 dan di 2016 baru diketahui Rabies. Hal ini tergantung daya tahan tubuh dan lokasi gigitan, di mana semakin jauh gigitan ke otak semakin lama prosesnya.“Kalau gigitan dari bahu ke atas diberi vaksin dan serumnya,” jelasnya. Sepanjang tahun 2016, sebut Yulia lebih dari 2.000 kasus gigitan anjing di Sumatera Utara (Sumut) dan 1.800 lebih yang diberi Vaksin Anti Rabies. Dari jumlah tersebut 9 orang meninggal yaitu 1 dari Sibolga, 3 Nias Selatan, 2 Humbahas, 1 Pematang Siantar, 1 Padang Sidimpuan dan 1 Tapanuli Selatan."Kasus gigitan terbanyak, ada di Dairi yaitu 405 orang tetapi tidak ada yang meninggal," imbuhnya. Karenanya, ia menyarankan, agar masyarakat mengecek kesehatan hewan peliharaan paling tidak sekali enam bulan, terutama daerah yang banyak hewan peliharaannya. Dinas peternakan juga diharapkan proaktif dan melakukan sosialisasi bagaimana tentang hewan yang sakit atau sehat seperti anjing, kucing atau monyet. "Kemungkinan selama ini, yang meninggal akibat Rabies karena tidak divaksin dan beranggapan gigitan itu hal yang biasa. Sehingga tidak dibawa ke Puskesmas, dan hanya diberi obat biasa saja,” pungkasnya.(BS03)